M@h3s@......89' S3L@luuuU......: Ketika kita lupa akan sifat Nabi......
KEHIDUPAN MEMBAWA KU MENJADI TAU........ TAU AKAN SEGALANYA........ TENTANG AKU, KAMU, DAN DUNIA KITA.....
Sabtu, 28 November 2009
MENIKAH DAN DAKWAH
By: Gusti n' friend
Semestinya pernikahan kita pahami melalui tiga pendekatan: pendekatan fitrah, fikih dan dakwah.
Pendekatan Fitrah
Pendekatan fitrah menegaskan kepada kita bahwa pernikahan adalah sebuah proses alami (sunatullah) atas segala makhluknya. Allah menciptakan makhluk-Nya dalam kondisi berpasangan.
Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sangat indah, dan untuk mereka Allah menciptakan pasangannya. Secara naluriah, manusia akan memiliki ketertarikan kepada lawan jenis. Ada sesuatu yang amat kuat menarik, sehingga laki-laki dengan dorongan naluriah dan fitrahnya mendekati perempuan. Sebaliknya, perempuan merasakan kesenangan tatkala didekati laki-laki.
Fitah ketertarikan terhadap lawan jenis ini tidak akan bisa dibunuh atau dimampatkan dengan cara apapun. Akan tetapi kebebasan penyaluran dan pengekspresiannya tanpa kendali juga menjerumuskan manusia kepada sifat kebinatangan bahkan kesetanan.
Maka pernikahanlah jalan tengah yang dihadirkan Islam sebagai solusi. Islam tidak mengakui prinsip hidup membujang (tabattul), bahkan walaupun untuk alasan menyucikan diri dan demi mendekatkan diri secara total hanya kepada Allah. Dan Rasulullah saw pun menegaskan bahwa nikah adalah bagian dari sunnah (ajaran) beliau.
Pendekatan Fikih
Islam adalah sistem (syari’at) sempurna yang mengatur segala urusan kehidupan manusia demi menghadirkan kebaikan dan kebahagiaan bagi mereka. Islam membimbing manusia dalam segala aspek baik keberadaannya secara individu maupun sosial. Perbaikan individu, pembinaan keluarga, pengarahan komunitas masyarakat serta pengkondisian manasia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi konsen syari’at Islam.
Keluarga adalah basis kekuatan masyarakat. Baik buruknya sebuah masyarakat bermula dari baik-buruknya keluaraga-keluarga yang ada dalam masyarakat tersebut. Dalam konteks ini Islam memberikan aturan dan bimbingan bagi setiap muslim dalam membentuk keluarga. Islam menjelaskan dengan begitu detail dan rinci mulai dari bagaimana prosedur pernikahan, kriteria calon suami atau istri, akad dan pesta pernikahan, hak dan kewajiban suami istri, aturan dalam berpoligami, perceraian beserta syarat-syaratnya, hak-hak anak dalam keluarga, perasaan solidaritas sesama anggota keluaraga, dan sebagainya. Semua aturan tersebut menjadi acuan bagi setiap muslim dalam menajalani pernikahan dan pembinaan keluarga.
(Secara detail tentang aturan-aturan Islam terkait pernikahan dan kehidupan keluarga silahkan merujuk kepada buku-buku fikih yang ada)
Pendekatan Dakwah
Setiap muslim adalah dai. Kita dituntut merealisasikan dakwah dalam seluruh kehidupan kita. Setiap langkah kita sesunguhnya adalah dakwah kepada Allah, sebab dengan itulah Islam terkabarkan kepada umat manusia, serta dengan itulah rahmat Islam tersebar ke seluruh alam. Bukankah dakwah bermakna mengajak manusia merealisasikan ajaran-ajaran Allah dalam kehidupan keseharian? Sudah selayaknya kita sebagai pelaku yang menunaikan pertama kali dan memberi contoh kepada yang lain.
Pernikahan akan bernilai dakwah apabila dilaksanakan sesuai dengan tuntunan (fikih) Islam di satu sisi, dan menimbang bebagai kemashlahatan dakwah dalam setiap langkahnya, pada sisi yang lain. Dalam memilih jodoh, dipikirkan kriteria pasangan hidup yang bernilai optimal bagi dakwah. Dalam menentukan siapa calon jodoh tersebut, dipertimbangkan pula kemashlahatan secara lebih luas, tidak hanya kemashlahatan pribadi tetapi juga keluarga, masyarakat dan dakwah secara keseluruhan.
[Maraji’: Cahyadi Takariawan, "Di Jalan Dakwah Aku Menikah"]
Semestinya pernikahan kita pahami melalui tiga pendekatan: pendekatan fitrah, fikih dan dakwah.
Pendekatan Fitrah
Pendekatan fitrah menegaskan kepada kita bahwa pernikahan adalah sebuah proses alami (sunatullah) atas segala makhluknya. Allah menciptakan makhluk-Nya dalam kondisi berpasangan.
Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sangat indah, dan untuk mereka Allah menciptakan pasangannya. Secara naluriah, manusia akan memiliki ketertarikan kepada lawan jenis. Ada sesuatu yang amat kuat menarik, sehingga laki-laki dengan dorongan naluriah dan fitrahnya mendekati perempuan. Sebaliknya, perempuan merasakan kesenangan tatkala didekati laki-laki.
Fitah ketertarikan terhadap lawan jenis ini tidak akan bisa dibunuh atau dimampatkan dengan cara apapun. Akan tetapi kebebasan penyaluran dan pengekspresiannya tanpa kendali juga menjerumuskan manusia kepada sifat kebinatangan bahkan kesetanan.
Maka pernikahanlah jalan tengah yang dihadirkan Islam sebagai solusi. Islam tidak mengakui prinsip hidup membujang (tabattul), bahkan walaupun untuk alasan menyucikan diri dan demi mendekatkan diri secara total hanya kepada Allah. Dan Rasulullah saw pun menegaskan bahwa nikah adalah bagian dari sunnah (ajaran) beliau.
Pendekatan Fikih
Islam adalah sistem (syari’at) sempurna yang mengatur segala urusan kehidupan manusia demi menghadirkan kebaikan dan kebahagiaan bagi mereka. Islam membimbing manusia dalam segala aspek baik keberadaannya secara individu maupun sosial. Perbaikan individu, pembinaan keluarga, pengarahan komunitas masyarakat serta pengkondisian manasia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi konsen syari’at Islam.
Keluarga adalah basis kekuatan masyarakat. Baik buruknya sebuah masyarakat bermula dari baik-buruknya keluaraga-keluarga yang ada dalam masyarakat tersebut. Dalam konteks ini Islam memberikan aturan dan bimbingan bagi setiap muslim dalam membentuk keluarga. Islam menjelaskan dengan begitu detail dan rinci mulai dari bagaimana prosedur pernikahan, kriteria calon suami atau istri, akad dan pesta pernikahan, hak dan kewajiban suami istri, aturan dalam berpoligami, perceraian beserta syarat-syaratnya, hak-hak anak dalam keluarga, perasaan solidaritas sesama anggota keluaraga, dan sebagainya. Semua aturan tersebut menjadi acuan bagi setiap muslim dalam menajalani pernikahan dan pembinaan keluarga.
(Secara detail tentang aturan-aturan Islam terkait pernikahan dan kehidupan keluarga silahkan merujuk kepada buku-buku fikih yang ada)
Pendekatan Dakwah
Setiap muslim adalah dai. Kita dituntut merealisasikan dakwah dalam seluruh kehidupan kita. Setiap langkah kita sesunguhnya adalah dakwah kepada Allah, sebab dengan itulah Islam terkabarkan kepada umat manusia, serta dengan itulah rahmat Islam tersebar ke seluruh alam. Bukankah dakwah bermakna mengajak manusia merealisasikan ajaran-ajaran Allah dalam kehidupan keseharian? Sudah selayaknya kita sebagai pelaku yang menunaikan pertama kali dan memberi contoh kepada yang lain.
Pernikahan akan bernilai dakwah apabila dilaksanakan sesuai dengan tuntunan (fikih) Islam di satu sisi, dan menimbang bebagai kemashlahatan dakwah dalam setiap langkahnya, pada sisi yang lain. Dalam memilih jodoh, dipikirkan kriteria pasangan hidup yang bernilai optimal bagi dakwah. Dalam menentukan siapa calon jodoh tersebut, dipertimbangkan pula kemashlahatan secara lebih luas, tidak hanya kemashlahatan pribadi tetapi juga keluarga, masyarakat dan dakwah secara keseluruhan.
[Maraji’: Cahyadi Takariawan, "Di Jalan Dakwah Aku Menikah"]
Ketika kita lupa akan sifat Nabi......
BAITI JANNATI
Selera makanku mendadak punah. Hanya ada rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini. Duh… betapa tidak gemas, dalam keadaan lapar memuncak seperti ini makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan lidah. Sayur sop ini rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin nggak ketulungan. “Ummi… Ummi, kapan kau dapat memasak dengan benar…? Selalu saja, kalau tak keasinan…kemanisan, kalau tak keaseman… ya kepedesan!” Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tak menggerutu.”Sabar bi…, Rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khodijah. Katanya mau kayak Rasul…? ” ucap isteriku kalem. “Iya… tapi abi kan manusia biasa. Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini…!” Jawabku dengan nada tinggi. Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. Kalau sudah begitu, aku yakin pasti air matanya sudah merebak.
***
Sepekan sudah aku ke luar kota. Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan ‘baiti jannati’ di rumahku. Namun apa yang terjadi…? Ternyata kenyataan tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuh keliling. Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal burak (pecah). Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini. Piring-piring kotor berpesta pora di dapur, dan cucian… ouw… berember-ember. Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena berhari-hari direndam dengan detergen tapi tak juga dicuci.
Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfar sambil mengurut dada. “Ummi…ummi, bagaimana abi tak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini…?” ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Ummi… isteri sholihat itu tak hanya pandai ngisi pengajian, tapi dia juga harus pandai dalam mengatur tetek bengek urusan rumah tangga. Harus bisa masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah…?” Belum sempat kata-kataku habis sudah terdengar ledakan tangis isteriku yang kelihatan begitu pilu. “Ah…wanita gampang sekali untuk menangis…,” batinku berkata dalam hati. “Sudah diam Mi, tak boleh cengeng. Katanya mau jadi isteri shalihat…? Isteri shalihat itu tidak cengeng,” bujukku hati-hati setelah melihat air matanya menganak sungai dipipinya. “Gimana nggak nangis! Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus. Rumah ini berantakan karena memang ummi tak bisa mengerjakan apa-apa. Jangankan untuk kerja untuk jalan saja susah. Ummi kan muntah-muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali,” ucap isteriku diselingi isak tangis. “Abi nggak ngerasain sih bagaimana maboknya orang yang hamil muda…” Ucap isteriku lagi, sementara air matanya kulihat tetap merebak.
***
Bi…, siang nanti antar Ummi ngaji ya…?” pinta isteriku. “Aduh, Mi… abi kan sibuk sekali hari ini. Berangkat sendiri saja ya?” ucapku. “Ya sudah, kalau abi sibuk, Ummi naik bis umum saja, mudah-mudahan nggak pingsan di jalan,” jawab isteriku. “Lho, kok bilang gitu…?” selaku. “Iya, dalam kondisi muntah-muntah seperti ini kepala Ummi gampang pusing kalau mencium bau bensin. Apalagi ditambah berdesak-desakan dalam bus dengan suasana panas menyengat. Tapi mudah-mudahan sih nggak kenapa-kenapa,” ucap isteriku lagi. “Ya sudah, kalau begitu naik bajaj saja,” jawabku ringan. Pertemuan hari ini ternyata diundur pekan depan. Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku. Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindu padanya. Motorku sudah sampai di tempat isteriku mengaji. Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai.
Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itu satu persatu. Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal. “Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai bentuk sepatu pun lucu-lucu,” aku membathin sendiri. Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sendal jepit yang diapit sepasang sepatu indah. Dug! Hati ini menjadi luruh. “Oh….bukankah ini sandal jepit isteriku?” tanya hatiku. Lalu segera kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu indah itu. Tes! Air mataku jatuh tanpa terasa. Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku. Sampai-sampai kemana ia pergi harus bersandal jepit kumal. Sementara teman-temannnya bersepatu bagus. “Maafkan aku Maryam,” pinta hatiku. “Krek…,” suara pintu terdengar dibuka. Aku terlonjak, lantas menyelinap ke tembok samping. Kulihat dua ukhti berjalan melintas sambil menggendong bocah mungil yang berjilbab indah dan cerah, secerah warna baju dan jilbab umminya. Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu, kembali melintas ukhti-ukhti yang lain. Namun, belum juga kutemukan Maryamku. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi isteriku belum juga keluar.
Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh berbaya gelap dan berjilbab hitam melintas. “Ini dia mujahidahku!” pekik hatiku. Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja. Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya. Diam-diam hatiku kembali dirayapi perasaan berdosa karena selama ini kurang memperhatikan isteri. Ya, aku baru sadar, bahwa semenjak menikah belum pernah membelikan sepotong baju pun untuknya. Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurangan isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu, wahai Maryamku.
Aku benar-benar menjadi malu pada Allah dan Rasul-Nya. Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang isteriku tak pernah kuurusi. Padahal Rasul telah berkata: “Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya.” Sedang aku..? Ah, kenapa pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami agar menggauli isterinya dengan baik. Sedang aku…? terlalu sering ngomel dan menuntut isteri dengan sesuatu yang ia tak dapat melakukannya. Aku benar-benar merasa menjadi suami terdzalim!!! “Maryam…!” panggilku, ketika tubuh berbaya gelap itu melintas. Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini. Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum. Senyum bahagia. “Abi…!” bisiknya pelan dan girang. Sungguh, aku baru melihat isteriku segirang ini. “Ah, kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput isteri?” sesal hatiku.
***
Esoknya aku membeli sepasang sepatu untuk isteriku. Ketika tahu hal itu, senyum bahagia kembali mengembang dari bibirnya. “Alhamdulillah, jazakallahu…,”ucapnya dengan suara tulus. Ah, Maryam, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh isteri zuhud dan ‘iffah sepertimu? Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku…?
Semoga berguna bagi kita semua….amin ya rabbal alamien
Wassalam.
Catatan 'Yuliardi Budiawan: samara
Selera makanku mendadak punah. Hanya ada rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini. Duh… betapa tidak gemas, dalam keadaan lapar memuncak seperti ini makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan lidah. Sayur sop ini rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin nggak ketulungan. “Ummi… Ummi, kapan kau dapat memasak dengan benar…? Selalu saja, kalau tak keasinan…kemanisan, kalau tak keaseman… ya kepedesan!” Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tak menggerutu.”Sabar bi…, Rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khodijah. Katanya mau kayak Rasul…? ” ucap isteriku kalem. “Iya… tapi abi kan manusia biasa. Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini…!” Jawabku dengan nada tinggi. Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. Kalau sudah begitu, aku yakin pasti air matanya sudah merebak.
***
Sepekan sudah aku ke luar kota. Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan ‘baiti jannati’ di rumahku. Namun apa yang terjadi…? Ternyata kenyataan tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuh keliling. Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal burak (pecah). Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini. Piring-piring kotor berpesta pora di dapur, dan cucian… ouw… berember-ember. Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena berhari-hari direndam dengan detergen tapi tak juga dicuci.
Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfar sambil mengurut dada. “Ummi…ummi, bagaimana abi tak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini…?” ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Ummi… isteri sholihat itu tak hanya pandai ngisi pengajian, tapi dia juga harus pandai dalam mengatur tetek bengek urusan rumah tangga. Harus bisa masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah…?” Belum sempat kata-kataku habis sudah terdengar ledakan tangis isteriku yang kelihatan begitu pilu. “Ah…wanita gampang sekali untuk menangis…,” batinku berkata dalam hati. “Sudah diam Mi, tak boleh cengeng. Katanya mau jadi isteri shalihat…? Isteri shalihat itu tidak cengeng,” bujukku hati-hati setelah melihat air matanya menganak sungai dipipinya. “Gimana nggak nangis! Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus. Rumah ini berantakan karena memang ummi tak bisa mengerjakan apa-apa. Jangankan untuk kerja untuk jalan saja susah. Ummi kan muntah-muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali,” ucap isteriku diselingi isak tangis. “Abi nggak ngerasain sih bagaimana maboknya orang yang hamil muda…” Ucap isteriku lagi, sementara air matanya kulihat tetap merebak.
***
Bi…, siang nanti antar Ummi ngaji ya…?” pinta isteriku. “Aduh, Mi… abi kan sibuk sekali hari ini. Berangkat sendiri saja ya?” ucapku. “Ya sudah, kalau abi sibuk, Ummi naik bis umum saja, mudah-mudahan nggak pingsan di jalan,” jawab isteriku. “Lho, kok bilang gitu…?” selaku. “Iya, dalam kondisi muntah-muntah seperti ini kepala Ummi gampang pusing kalau mencium bau bensin. Apalagi ditambah berdesak-desakan dalam bus dengan suasana panas menyengat. Tapi mudah-mudahan sih nggak kenapa-kenapa,” ucap isteriku lagi. “Ya sudah, kalau begitu naik bajaj saja,” jawabku ringan. Pertemuan hari ini ternyata diundur pekan depan. Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku. Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindu padanya. Motorku sudah sampai di tempat isteriku mengaji. Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai.
Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itu satu persatu. Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal. “Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai bentuk sepatu pun lucu-lucu,” aku membathin sendiri. Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sendal jepit yang diapit sepasang sepatu indah. Dug! Hati ini menjadi luruh. “Oh….bukankah ini sandal jepit isteriku?” tanya hatiku. Lalu segera kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu indah itu. Tes! Air mataku jatuh tanpa terasa. Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku. Sampai-sampai kemana ia pergi harus bersandal jepit kumal. Sementara teman-temannnya bersepatu bagus. “Maafkan aku Maryam,” pinta hatiku. “Krek…,” suara pintu terdengar dibuka. Aku terlonjak, lantas menyelinap ke tembok samping. Kulihat dua ukhti berjalan melintas sambil menggendong bocah mungil yang berjilbab indah dan cerah, secerah warna baju dan jilbab umminya. Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu, kembali melintas ukhti-ukhti yang lain. Namun, belum juga kutemukan Maryamku. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi isteriku belum juga keluar.
Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh berbaya gelap dan berjilbab hitam melintas. “Ini dia mujahidahku!” pekik hatiku. Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja. Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya. Diam-diam hatiku kembali dirayapi perasaan berdosa karena selama ini kurang memperhatikan isteri. Ya, aku baru sadar, bahwa semenjak menikah belum pernah membelikan sepotong baju pun untuknya. Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurangan isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu, wahai Maryamku.
Aku benar-benar menjadi malu pada Allah dan Rasul-Nya. Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang isteriku tak pernah kuurusi. Padahal Rasul telah berkata: “Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya.” Sedang aku..? Ah, kenapa pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami agar menggauli isterinya dengan baik. Sedang aku…? terlalu sering ngomel dan menuntut isteri dengan sesuatu yang ia tak dapat melakukannya. Aku benar-benar merasa menjadi suami terdzalim!!! “Maryam…!” panggilku, ketika tubuh berbaya gelap itu melintas. Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini. Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum. Senyum bahagia. “Abi…!” bisiknya pelan dan girang. Sungguh, aku baru melihat isteriku segirang ini. “Ah, kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput isteri?” sesal hatiku.
***
Esoknya aku membeli sepasang sepatu untuk isteriku. Ketika tahu hal itu, senyum bahagia kembali mengembang dari bibirnya. “Alhamdulillah, jazakallahu…,”ucapnya dengan suara tulus. Ah, Maryam, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh isteri zuhud dan ‘iffah sepertimu? Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku…?
Semoga berguna bagi kita semua….amin ya rabbal alamien
Wassalam.
Catatan 'Yuliardi Budiawan: samara
Madrasah Cinta
Apa yang paling dinanti seorang wanita yang baru saja menikah? Sudah pasti jawabannya adalah kehamilan. Seberapa jauh pun jalan yang harus ditempuh, seberat apa pun langkah yang mesti diayun, seberapa lama pun waktu yang kan dijalani, tak kenal menyerah demi mendapatkan satu kepastian dari seorang bidan; "positif".
Meski berat, tak ada yang membuatnya mampu bertahan hidup kecuali benih dalam kandungannya. Menangis, tertawa, sedih dan bahagia tak berbeda baginya, karena ia lebih mementingkan apa yang dirasa si kecil di perutnya. Seringkali ia bertanya; menangiskah ia? Tertawakah ia? Sedih atau bahagiakah ia di dalam sana? Bahkan ketika waktunya tiba, tak ada yang mampu menandingi cinta yang pernah diberikannya, ketika mati pun akan dipertaruhkannya asalkan generasi penerusnya itu bisa terlahir ke dunia. Rasa sakit pun sirna sekejap mendengar tangisan pertama si buah hati, tak peduli darah dan keringat yang terus bercucuran. Detik itu, sebuah episode cinta baru saja berputar.
Tak ada yang lebih membanggakan untuk diperbincangkan selain anak-anak. Tak satu pun tema yang paling menarik untuk didiskusikan bersama rekan sekerja, teman sejawat, kerabat maupun keluarga, kecuali anak-anak. Si kecil baru saja berucap "Ma..." segera ia mengangkat telepon untuk mengabarkan ke semua yang ada didaftar telepon. Saat baru pertama berdiri, ia pun berteriak histeris, antara haru, bangga dan sedikit takut si kecil terjatuh dan luka. Hari pertama sekolah adalah saat pertama kali matanya menyaksikan langkah awal kesuksesannya. Meskipun disaat yang sama, pikirannya terus menerawang dan bibirnya tak lepas berdoa, berharap sang suami tak terhenti rezekinya. Agar langkah kaki kecil itu pun tak terhenti di tengah jalan.
"Demi anak", "Untuk anak", menjadi alasan utama ketika ia berada di pasar berbelanja keperluan si kecil. Saat ia berada di pesta seorang kerabat atau keluarga dan membungkus beberapa potong makanan dalam tissue. Ia selalu mengingat anaknya dalam setiap suapan nasinya, setiap gigitan kuenya, setiap kali hendak berbelanja baju untuknya. Tak jarang, ia urung membeli baju untuknya dan berganti mengambil baju untuk anak. Padahal, baru kemarin sore ia membeli baju si kecil. Meski pun, terkadang ia harus berhutang. Lagi-lagi atas satu alasan, demi anak.
Disaat pusing pikirannya mengatur keuangan yang serba terbatas, periksalah catatannya. Di kertas kecil itu tertulis: 1. Uang sekolah anak, 2. Beli susu anak, ... nomor urut selanjutnya baru kebutuhan yang lain. Tapi jelas di situ, kebutuhan anak senantiasa menjadi prioritasnya. Bahkan, tak ada beras di rumah pun tak mengapa, asalkan susu si kecil tetap terbeli. Takkan dibiarkan si kecil menangis, apa pun akan dilakukan agar senyum dan tawa riangnya tetap terdengar.
Ia menjadi guru yang tak pernah digaji, menjadi pembantu yang tak pernah dibayar, menjadi pelayan yang sering terlupa dihargai, dan menjadi babby sitter yang paling setia. Sesekali ia menjelma menjadi puteri salju yang bernyanyi merdu menunggu suntingan sang pangeran. Keesokannya ia rela menjadi kuda yang meringkik, berlari mengejar dan menghalau musuh agar tak mengganggu. Atau ketika ia dengan lihainya menjadi seekor kelinci yang melompat-lompat mengelilingi kebun, mencari wortel untuk makan sehari-hari. Hanya tawa dan jerit lucu yang ingin didengarnya dari kisah-kisah yang tak pernah absen didongengkannya. Kantuk dan lelah tak lagi dihiraukan, walau harus menyamarkan suara menguapnya dengan auman harimau. Atau berpura-pura si nenek sihir terjatuh dan mati sekadar untuk bisa memejamkan mata barang sedetik. Namun, si kecil belum juga terpejam dan memintanya menceritakan dongeng ke sekian. Dalam kantuknya, ia terus pun mendongeng.
Tak ada yang dilakukannya di setiap pagi sebelum menyiapkan sarapan anak-anak yang akan berangkat ke kampus. Tak satu pun yang paling ditunggu kepulangannya selain suami dan anak-anak tercinta. Serta merta kalimat, "sudah makan belum?" tak lupa terlontar saat baru saja memasuki rumah. Tak peduli meski si kecil yang dulu kerap ia timang dalam dekapannya itu sudah menjadi orang dewasa yang bisa membeli makan siangnya sendiri di kampus.
Hari ketika si anak yang telah dewasa itu mampu mengambil keputusan terpenting dalam hidupnya, untuk menentukan jalan hidup bersama pasangannya, siapa yang paling menangis? Siapa yang lebih dulu menitikkan air mata? Lihatlah sudut matanya, telah menjadi samudera air mata dalam sekejap. Langkah beratnya ikhlas mengantar buah hatinya ke kursi pelaminan. ia menangis melihat anaknya tersenyum bahagia dibalut gaun pengantin. Di saat itu, ia pun sadar buah hati yang bertahun-tahun menjadi kubangan curahan cintanya itu tak lagi hanya miliknya. Ada satu hati lagi yang tertambat, yang dalam harapnya ia berlirih, "Masihkah kau anakku?"
Saat senja tiba. Ketika keriput di tangan dan wajah mulai berbicara tentang usianya. Ia pun sadar, bahwa sebentar lagi masanya kan berakhir. Hanya satu pinta yang sering terucap dari bibirnya, "bila ibu meninggal, ibu ingin anak-anak ibu yang memandikan. Ibu ingin dimandikan sambil dipangku kalian". Tak hanya itu, imam shalat jenazah pun ia meminta dari salah satu anaknya. "Agar tak percuma ibu mendidik kalian menjadi anak yang shalih sejak kecil," ujarnya.
Duh ibu, semoga saya bisa menjawab pintamu itu kelak. Bagaimana mungkin saya tak ingin memenuhi pinta itu? Sejak saya kecil ibu telah mengajarkan arti cinta sebenarnya. Ibu lah madrasah cinta saya, sekolah yang hanya punya satu mata pelajaran: cinta. Sekolah yang hanya ada satu guru: pecinta. Sekolah yang semua murid-muridnya diberi satu nama: yang dicinta.
Bayu Gawtama
Pecinta yang dicinta
Meski berat, tak ada yang membuatnya mampu bertahan hidup kecuali benih dalam kandungannya. Menangis, tertawa, sedih dan bahagia tak berbeda baginya, karena ia lebih mementingkan apa yang dirasa si kecil di perutnya. Seringkali ia bertanya; menangiskah ia? Tertawakah ia? Sedih atau bahagiakah ia di dalam sana? Bahkan ketika waktunya tiba, tak ada yang mampu menandingi cinta yang pernah diberikannya, ketika mati pun akan dipertaruhkannya asalkan generasi penerusnya itu bisa terlahir ke dunia. Rasa sakit pun sirna sekejap mendengar tangisan pertama si buah hati, tak peduli darah dan keringat yang terus bercucuran. Detik itu, sebuah episode cinta baru saja berputar.
Tak ada yang lebih membanggakan untuk diperbincangkan selain anak-anak. Tak satu pun tema yang paling menarik untuk didiskusikan bersama rekan sekerja, teman sejawat, kerabat maupun keluarga, kecuali anak-anak. Si kecil baru saja berucap "Ma..." segera ia mengangkat telepon untuk mengabarkan ke semua yang ada didaftar telepon. Saat baru pertama berdiri, ia pun berteriak histeris, antara haru, bangga dan sedikit takut si kecil terjatuh dan luka. Hari pertama sekolah adalah saat pertama kali matanya menyaksikan langkah awal kesuksesannya. Meskipun disaat yang sama, pikirannya terus menerawang dan bibirnya tak lepas berdoa, berharap sang suami tak terhenti rezekinya. Agar langkah kaki kecil itu pun tak terhenti di tengah jalan.
"Demi anak", "Untuk anak", menjadi alasan utama ketika ia berada di pasar berbelanja keperluan si kecil. Saat ia berada di pesta seorang kerabat atau keluarga dan membungkus beberapa potong makanan dalam tissue. Ia selalu mengingat anaknya dalam setiap suapan nasinya, setiap gigitan kuenya, setiap kali hendak berbelanja baju untuknya. Tak jarang, ia urung membeli baju untuknya dan berganti mengambil baju untuk anak. Padahal, baru kemarin sore ia membeli baju si kecil. Meski pun, terkadang ia harus berhutang. Lagi-lagi atas satu alasan, demi anak.
Disaat pusing pikirannya mengatur keuangan yang serba terbatas, periksalah catatannya. Di kertas kecil itu tertulis: 1. Uang sekolah anak, 2. Beli susu anak, ... nomor urut selanjutnya baru kebutuhan yang lain. Tapi jelas di situ, kebutuhan anak senantiasa menjadi prioritasnya. Bahkan, tak ada beras di rumah pun tak mengapa, asalkan susu si kecil tetap terbeli. Takkan dibiarkan si kecil menangis, apa pun akan dilakukan agar senyum dan tawa riangnya tetap terdengar.
Ia menjadi guru yang tak pernah digaji, menjadi pembantu yang tak pernah dibayar, menjadi pelayan yang sering terlupa dihargai, dan menjadi babby sitter yang paling setia. Sesekali ia menjelma menjadi puteri salju yang bernyanyi merdu menunggu suntingan sang pangeran. Keesokannya ia rela menjadi kuda yang meringkik, berlari mengejar dan menghalau musuh agar tak mengganggu. Atau ketika ia dengan lihainya menjadi seekor kelinci yang melompat-lompat mengelilingi kebun, mencari wortel untuk makan sehari-hari. Hanya tawa dan jerit lucu yang ingin didengarnya dari kisah-kisah yang tak pernah absen didongengkannya. Kantuk dan lelah tak lagi dihiraukan, walau harus menyamarkan suara menguapnya dengan auman harimau. Atau berpura-pura si nenek sihir terjatuh dan mati sekadar untuk bisa memejamkan mata barang sedetik. Namun, si kecil belum juga terpejam dan memintanya menceritakan dongeng ke sekian. Dalam kantuknya, ia terus pun mendongeng.
Tak ada yang dilakukannya di setiap pagi sebelum menyiapkan sarapan anak-anak yang akan berangkat ke kampus. Tak satu pun yang paling ditunggu kepulangannya selain suami dan anak-anak tercinta. Serta merta kalimat, "sudah makan belum?" tak lupa terlontar saat baru saja memasuki rumah. Tak peduli meski si kecil yang dulu kerap ia timang dalam dekapannya itu sudah menjadi orang dewasa yang bisa membeli makan siangnya sendiri di kampus.
Hari ketika si anak yang telah dewasa itu mampu mengambil keputusan terpenting dalam hidupnya, untuk menentukan jalan hidup bersama pasangannya, siapa yang paling menangis? Siapa yang lebih dulu menitikkan air mata? Lihatlah sudut matanya, telah menjadi samudera air mata dalam sekejap. Langkah beratnya ikhlas mengantar buah hatinya ke kursi pelaminan. ia menangis melihat anaknya tersenyum bahagia dibalut gaun pengantin. Di saat itu, ia pun sadar buah hati yang bertahun-tahun menjadi kubangan curahan cintanya itu tak lagi hanya miliknya. Ada satu hati lagi yang tertambat, yang dalam harapnya ia berlirih, "Masihkah kau anakku?"
Saat senja tiba. Ketika keriput di tangan dan wajah mulai berbicara tentang usianya. Ia pun sadar, bahwa sebentar lagi masanya kan berakhir. Hanya satu pinta yang sering terucap dari bibirnya, "bila ibu meninggal, ibu ingin anak-anak ibu yang memandikan. Ibu ingin dimandikan sambil dipangku kalian". Tak hanya itu, imam shalat jenazah pun ia meminta dari salah satu anaknya. "Agar tak percuma ibu mendidik kalian menjadi anak yang shalih sejak kecil," ujarnya.
Duh ibu, semoga saya bisa menjawab pintamu itu kelak. Bagaimana mungkin saya tak ingin memenuhi pinta itu? Sejak saya kecil ibu telah mengajarkan arti cinta sebenarnya. Ibu lah madrasah cinta saya, sekolah yang hanya punya satu mata pelajaran: cinta. Sekolah yang hanya ada satu guru: pecinta. Sekolah yang semua murid-muridnya diberi satu nama: yang dicinta.
Bayu Gawtama
Pecinta yang dicinta
Rabu, 21 Oktober 2009
RAJA DENGAN TAHTA MAYA
By: GUSTI
Sepasang ufuk timur tak jua muncul diperadapan jiwa
Sepintas pikiran ini merujuk pada indahnya pelangi
yang sekejap kau tunjukkan padaku,
Waktu itu.......
Ku coba bentangkan sayap...
Menatap langit lepas
Meraba terus kedalam, dalamnya hati
Aku mencoba meramal diri
Dengan mimpi-mimpi
Mimpi yang memaksa diri untuk terus merogoh hingga dasrnya...
Ada tanda,
dia datang berkali-kali...
Mata itu....
Mata yang selama ini aku cari
Mata yang mampu membuat ku damai dengan segala kata-katanya....
Senyum itu....
Senyum yang selalu membuatku terjaga...
Senyum yang selalu membuatku merasa memilikinya...
"Memilikinya????
Tidak mungkin!!!!"
Mengapa hatiku merongrong hampa?
Menertawakan bayanganku sendiri?
Memaki-maki kebesaran khayalku ini...
Tak ada yang salah ku kira....
Kehampaan ini hanyalah sebuah kerajaan khayal yang membuatnya sebagai sugesti...
Sugesti yang terus merongrong hati ini...
Untuk mencapainya....
Kembali aku dalam pangkuan ini....
Pangkuan mimpi dirinya...
Aku....
Aku ingin menjadi sejuk,
Ketika hati ini berusaha menjadi telaga untuk seseorang
yang ku ingin.....
Menghangatkan dengan canda...
Sejenak bahagiakan,
Tapi tetap, aku tak ingin memecah tumpu yang dia pakai
untuk mencari rusuknya
Aku hanya ingin kau ada di setiap ceritaku
Menjadi udara dalam balon kehidupanku
Tanpa aku pinta....
Aku selalu ingin menjadi sejuk,
Ketika hati ini berusaha menjadi sandaran keluh kesahmu...
Sempat mendayu-dayu suaraku, untuk yakinkan hatimu
Agar kau selalu merasa damai bersamaku...
Aku hanya ingin kau selalu ada....
Seperti balon yang selalu butuh udara,
Seperti novel yang selalu butuh cerita,
Seperti bumi yang selalu butuh matahari...
Dan seperti aku yang selalu butuh kamu....
Acccchhhhh.....
Udara ini semakin sesak ku jamah...
Waktu ini semakin bingung ku genggam....
Miris terasa....
Aku tak tau apa yang ku pijak, apa yang ku tunggu....
dia tak ada....
dia hanya mampu menjadi Raja dengan Tahta Maya dalam pikiranku....
Aku ingin dia nyata,
Dan dalam kenyataan yang fana ini aku hanya dapat berdoa....
Tuhan....
Aku memohon kepadaMU
Semoga Engkau berkenan menjadikan aku
sebagai alat untuk membahagiakan dia,
Sebagai alat untuk menjaganya,
Sebagai alat untuk mengurusnya,
Sebagai alat untuk mengusap air liurnya saat dia sakit,
Sebagai alat untuk menghapus kesedihannya,
Serta sebagai alat untuk menerima keramahan dan kemarahannya.....
Amien.....
Sepasang ufuk timur tak jua muncul diperadapan jiwa
Sepintas pikiran ini merujuk pada indahnya pelangi
yang sekejap kau tunjukkan padaku,
Waktu itu.......
Ku coba bentangkan sayap...
Menatap langit lepas
Meraba terus kedalam, dalamnya hati
Aku mencoba meramal diri
Dengan mimpi-mimpi
Mimpi yang memaksa diri untuk terus merogoh hingga dasrnya...
Ada tanda,
dia datang berkali-kali...
Mata itu....
Mata yang selama ini aku cari
Mata yang mampu membuat ku damai dengan segala kata-katanya....
Senyum itu....
Senyum yang selalu membuatku terjaga...
Senyum yang selalu membuatku merasa memilikinya...
"Memilikinya????
Tidak mungkin!!!!"
Mengapa hatiku merongrong hampa?
Menertawakan bayanganku sendiri?
Memaki-maki kebesaran khayalku ini...
Tak ada yang salah ku kira....
Kehampaan ini hanyalah sebuah kerajaan khayal yang membuatnya sebagai sugesti...
Sugesti yang terus merongrong hati ini...
Untuk mencapainya....
Kembali aku dalam pangkuan ini....
Pangkuan mimpi dirinya...
Aku....
Aku ingin menjadi sejuk,
Ketika hati ini berusaha menjadi telaga untuk seseorang
yang ku ingin.....
Menghangatkan dengan canda...
Sejenak bahagiakan,
Tapi tetap, aku tak ingin memecah tumpu yang dia pakai
untuk mencari rusuknya
Aku hanya ingin kau ada di setiap ceritaku
Menjadi udara dalam balon kehidupanku
Tanpa aku pinta....
Aku selalu ingin menjadi sejuk,
Ketika hati ini berusaha menjadi sandaran keluh kesahmu...
Sempat mendayu-dayu suaraku, untuk yakinkan hatimu
Agar kau selalu merasa damai bersamaku...
Aku hanya ingin kau selalu ada....
Seperti balon yang selalu butuh udara,
Seperti novel yang selalu butuh cerita,
Seperti bumi yang selalu butuh matahari...
Dan seperti aku yang selalu butuh kamu....
Acccchhhhh.....
Udara ini semakin sesak ku jamah...
Waktu ini semakin bingung ku genggam....
Miris terasa....
Aku tak tau apa yang ku pijak, apa yang ku tunggu....
dia tak ada....
dia hanya mampu menjadi Raja dengan Tahta Maya dalam pikiranku....
Aku ingin dia nyata,
Dan dalam kenyataan yang fana ini aku hanya dapat berdoa....
Tuhan....
Aku memohon kepadaMU
Semoga Engkau berkenan menjadikan aku
sebagai alat untuk membahagiakan dia,
Sebagai alat untuk menjaganya,
Sebagai alat untuk mengurusnya,
Sebagai alat untuk mengusap air liurnya saat dia sakit,
Sebagai alat untuk menghapus kesedihannya,
Serta sebagai alat untuk menerima keramahan dan kemarahannya.....
Amien.....
Kamis, 10 September 2009
KANGEN
by : WS. Rendra
Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
kau tak akan mengerti segala lukaku
kerna luka telah sembunyikan pisaunya.
Membayangkan wajahmu adalah siksa.
Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.
Engkau telah menjadi racun bagi darahku.
Apabila aku dalam kangen dan sepi
itulah berarti
aku tungku tanpa api.
Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
kau tak akan mengerti segala lukaku
kerna luka telah sembunyikan pisaunya.
Membayangkan wajahmu adalah siksa.
Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.
Engkau telah menjadi racun bagi darahku.
Apabila aku dalam kangen dan sepi
itulah berarti
aku tungku tanpa api.
Senin, 24 Agustus 2009
JENUH!!
By : gusti n' Fatim

Saat berkumpul di kantin kantor, waktu istirahat makan siang………
Diantara teman-temanku, yang mendengarkan celotehanku, hanya dia yang paling antusias mendengarkan. Saat terik tepat berada di atas kepalaku, dia mau berkeringat demi aku. Saat aku butuh, dia ada untukku. Aku sering memergokinya diam-diam memperhatikan tingkah polaku…
Semua aku pendam sendiri. Tak ku biarkan mulutku bercerita pada yang lain. seandainya dia merasakan apa yang aku rasakan?, TIDAK! Aku tak boleh merasakan apa-apa… aku tau cicin cantik tlah melingkar di jari manisnya. Aku tak bisa menggambarkan apa yang menarik darinya, apa kelebihannya, apa pula yang membuatku kagum padanya. Cesa, teman-teman kantor biasa memanggilku, kependekan dari nama panjangku Cecilia Sahab.
Tadi sepulang dari kantor, untuk pertama kalinya aku berada dekat dibalik punggungnya, untuk pertama kalinya aku ikut merasakan bagaimana dia mengatur kecepatan kemudi motornya. Tak ada suara, baik aku atau dia.
Hmm… aku terus menarik nafas. Aku berharap, semoga dia tak merasakan detak yang terus berlomba saat aku berada di dekatnya.
***
11.15, saat-saat yang paling ditunggu para karyawan kantor, waktu shalat dhuhur dan saatnya mengisi perut setelah setengah hari menguras tenaga demi upah yang tak seberapa. Kantin kantor saat ini sepi. Seli yang biasa menemaniku, hari ini bolos kerja.
“ siang mbak Cesa!!!” sapa satpam kantor yang sedang menyantap semangkuk bakso di kantin kantor.
“ siang…” balasku.
“ sendiri aja?, yang lain mana?” sapa satpam yang lain. Satpam di kantorku kan banyak, jadi aku gak bisa ngenali satu persatu, yang aku kenal hanya Pak Jono, karena beliau satpam senior di kantor ini.
“ lagi pada shalat kali pak!” jawabku.
Aku mamilih tempat dekat jendela, kali ini aku sendiri. Seperti biasa, frestea dingin selalu menemani istirahat siangku.
“ hi…. Cesa!”
“ Dimas……?!”
Laki-laki yang akhir-akhir ini menyita perhatianku sekarang duduk tepat di hadapanku. CESA TENANG!!. Seruku dalam hati. Kulirik cincin di jari manisnya.
“ kenapa?” Tanya Dimas.
“ mmm… gak pa-pa”
Aduhhhh…. Kenapa mesti gugup kayak gini sich?. Cesa, dia yang sering perhatiin kamu, dia yang sering meninggalkan meja kerjanya hanya untuk sekedar menyapamu, dia yang sering menawarkan untuk mengantarmu pulang. Harusnya bukan Cesa yang gugup, tapi dia.
“ kapan?” entah dari mana tiba-tiba muncul pertanyaan aneh dari mulutku.
“ kapan? Maksudnya?” Tanya Dimas tak mengerti.
“ tuh…” jawaku sambil menunjuk jari manisnya.
“ ooh… belum, ngumpulin duit dulu” jawabnya tersenyum.
“ udah lama?”
“ 2 tahun”
“ temen kuliah?”
Dimas menggeleng…
“ tetangga?”
Kembali menggeleng…
“ trus?”
“ temen TK!”
Hahahahaha…..kita terbahak tanpa memperhatikan kantin yang mulai ramai.
“ serius? Jangan becanda ach!” tanyaku.
“ yap!”
-waktu istirahat selesai-
Aku tetap merasakan perbedaan. Walaupun tak ada yang special, sifat jail yang dia punya terus menghinoptisku.
***
Lama-lama aku jenuh dengan perasaan indah ini. Indah yang ku rasakan tak kunjung temukan jawaba, aku tak boleh lengah, harap ini harus segera ku hilangkan.
***
Kini, dijari manisku tlah melingkar pula cincin pemberian Noe. Laki-laki yang baru aku kenal 5 bulan yang lalu. Singkat memang, tapi dia berani berikan kepastian bahwa akulah wanita pilihan yang akan mendampingi sisa hidupnya.
9 September kami pilih sebagai hari dimana Noe akan membacakan ijab sembari menjabat tangan papa. Dan hari itu pula aku mendapat kabar, Dimas juga mengucap ijab, untuk mempersunting teman semasa TKnya.

Saat berkumpul di kantin kantor, waktu istirahat makan siang………
Diantara teman-temanku, yang mendengarkan celotehanku, hanya dia yang paling antusias mendengarkan. Saat terik tepat berada di atas kepalaku, dia mau berkeringat demi aku. Saat aku butuh, dia ada untukku. Aku sering memergokinya diam-diam memperhatikan tingkah polaku…
Semua aku pendam sendiri. Tak ku biarkan mulutku bercerita pada yang lain. seandainya dia merasakan apa yang aku rasakan?, TIDAK! Aku tak boleh merasakan apa-apa… aku tau cicin cantik tlah melingkar di jari manisnya. Aku tak bisa menggambarkan apa yang menarik darinya, apa kelebihannya, apa pula yang membuatku kagum padanya. Cesa, teman-teman kantor biasa memanggilku, kependekan dari nama panjangku Cecilia Sahab.
Tadi sepulang dari kantor, untuk pertama kalinya aku berada dekat dibalik punggungnya, untuk pertama kalinya aku ikut merasakan bagaimana dia mengatur kecepatan kemudi motornya. Tak ada suara, baik aku atau dia.
Hmm… aku terus menarik nafas. Aku berharap, semoga dia tak merasakan detak yang terus berlomba saat aku berada di dekatnya.
***
11.15, saat-saat yang paling ditunggu para karyawan kantor, waktu shalat dhuhur dan saatnya mengisi perut setelah setengah hari menguras tenaga demi upah yang tak seberapa. Kantin kantor saat ini sepi. Seli yang biasa menemaniku, hari ini bolos kerja.
“ siang mbak Cesa!!!” sapa satpam kantor yang sedang menyantap semangkuk bakso di kantin kantor.
“ siang…” balasku.
“ sendiri aja?, yang lain mana?” sapa satpam yang lain. Satpam di kantorku kan banyak, jadi aku gak bisa ngenali satu persatu, yang aku kenal hanya Pak Jono, karena beliau satpam senior di kantor ini.
“ lagi pada shalat kali pak!” jawabku.
Aku mamilih tempat dekat jendela, kali ini aku sendiri. Seperti biasa, frestea dingin selalu menemani istirahat siangku.
“ hi…. Cesa!”
“ Dimas……?!”
Laki-laki yang akhir-akhir ini menyita perhatianku sekarang duduk tepat di hadapanku. CESA TENANG!!. Seruku dalam hati. Kulirik cincin di jari manisnya.
“ kenapa?” Tanya Dimas.
“ mmm… gak pa-pa”
Aduhhhh…. Kenapa mesti gugup kayak gini sich?. Cesa, dia yang sering perhatiin kamu, dia yang sering meninggalkan meja kerjanya hanya untuk sekedar menyapamu, dia yang sering menawarkan untuk mengantarmu pulang. Harusnya bukan Cesa yang gugup, tapi dia.
“ kapan?” entah dari mana tiba-tiba muncul pertanyaan aneh dari mulutku.
“ kapan? Maksudnya?” Tanya Dimas tak mengerti.
“ tuh…” jawaku sambil menunjuk jari manisnya.
“ ooh… belum, ngumpulin duit dulu” jawabnya tersenyum.
“ udah lama?”
“ 2 tahun”
“ temen kuliah?”
Dimas menggeleng…
“ tetangga?”
Kembali menggeleng…
“ trus?”
“ temen TK!”
Hahahahaha…..kita terbahak tanpa memperhatikan kantin yang mulai ramai.
“ serius? Jangan becanda ach!” tanyaku.
“ yap!”
-waktu istirahat selesai-
Aku tetap merasakan perbedaan. Walaupun tak ada yang special, sifat jail yang dia punya terus menghinoptisku.
***
Lama-lama aku jenuh dengan perasaan indah ini. Indah yang ku rasakan tak kunjung temukan jawaba, aku tak boleh lengah, harap ini harus segera ku hilangkan.
***
Kini, dijari manisku tlah melingkar pula cincin pemberian Noe. Laki-laki yang baru aku kenal 5 bulan yang lalu. Singkat memang, tapi dia berani berikan kepastian bahwa akulah wanita pilihan yang akan mendampingi sisa hidupnya.
9 September kami pilih sebagai hari dimana Noe akan membacakan ijab sembari menjabat tangan papa. Dan hari itu pula aku mendapat kabar, Dimas juga mengucap ijab, untuk mempersunting teman semasa TKnya.
Langganan:
Postingan (Atom)