Akhir-akhir ini aku sering baca novel. Baru saja aku merampungkan novel Gajah Mada, karya Langit Kresna Hariadi. Mungkin agak telat karena novel ini sudah lama terbit dan dijual di toko-toko buku. Aku suka dengan cerita-cerita sejarah kerajaan yang didalamnya terdapat cerita tentang tokoh-tokoh jaman kerajaan dulu yang mempunyai olah kanuragan dan ilmu-ilmu yang mumpuni. Sebelum membaca Gajah Mada, aku sudah membaca cerita silat (cersil) tentang mahesa jenar dalam novel Naga Sasra Sabuk Inten karya SH Mintarja. Saking asyiknya, aku sampai lupa waktu dan tempat. hehehe..sampai kantor aku langsung buka komputer dan langsung baca Naga Sasra Sabuk Inten, beruntung waktu itu tidak banyak kerjaan. Saking menikmati dan menghayati dengan sedikit berkhayal, aku bisa mempraktekkan pada waktu mahesajenar mengeluarkan ilmu andalannya, Sasrabirawa.
Mengenai novel Gajah Mada, aku baru merampungkan Gajah Mada I. Sebelum aku membaca novel Gajah Mada, terbesit dalam pikiran kalau dalam novel ini akan bercerita tentang siapa Gajah Mada, semacam biografi gitu lah. Tapi ternyata pikiranku meleset jauh, dalam novel Gajah Mada I ini. Gajah Mada langsung diceritakan menjadi seorang ‘bekel’ di kerajaan Majapahit, tidak diceritakan dari mana asal Gajah Mada, siapa orangtuanya dan sanak saudara. Gajah Mada adalah seorang ‘bekel’ yang gagak perkasa, cerdas, tegas ,mempunyai olah kanuragan yang tinggi dan berwibawa. Dia menjadi pimpinan dari sebuah pasukan Bhayangkara, pasukan pengaman raja dan keluarganya. Inti dari novel Gajah Mada I ini adalah pemberontakan dari seorang rakrian Kuti (Ra Kuti) dan rakrian-rakrian yang lain (Ra Pangsa, Ra Banyak, Ra yuyu, Ra Tanca, dll), pemberontakan terbesar di jaman Majapahit. Ra Kuti dan teman-temannya berhasil mengambil alih istana Majapahit. Jayanegara sempat dilarikan oleh pasukan Bhayangkara pimpinan Gajah Mada, begitu pula dengan keluarga kerajaan. Dalam pemberontakan ini, banyak cerita-cerita yang menarik dan bisa buat orang penasaran dengan adanya telik sandi di kubu pemberontak dan dari pasukan Bhayangkara itu sendiri. Sangat susah aku untuk menebak, siapa telik sandi dari Bhayangkara dan dari pasukan pemberontak. Bagi yang belum membaca, novel Gajah Mada I ini sangat menarik dan layak untuk di baca. Novel Gajah Mada II sudah menunggu, beli atau pinjem lagi ? hehehe….
KEHIDUPAN MEMBAWA KU MENJADI TAU........ TAU AKAN SEGALANYA........ TENTANG AKU, KAMU, DAN DUNIA KITA.....
Senin, 22 Juni 2009
Naga Sasra Sabuk Inten -- Bagian 1
By : Mahesa djenar
AWAN yang hitam pekat bergulung-gulung di langit seperti lumpur yang
diaduk dan kemudian dihanyutkan oleh banjir, sehingga malam gelap itu
menjadi semakin hitam. Sehitam suasana Kerajaan Demak pada waktu itu,
dimana terjadi perebutan pengaruh antara Wali pendukung kerajaan Demak
dengan Syeh Siti Jenar.
Pertentangan itu sedemikian meruncingnya sehingga terpaksa
diselesaikan dengan pertumpahan darah.
Syeh Siti Jenar dilenyapkan. Disusul dengan terbunuhnya Ki Kebo
Kenanga yang juga disebut Ki Ageng Pengging. Ki Kebo Kenanga ini
meninggalkan seorang putra bernama Mas Karebet. Karena dibesarkan oleh
Nyai Ageng Tingkir, kemudian Mas Karebet juga disebut Jaka Tingkir.
Jaka Tingkir inilah yang kemudian akan menjadi raja, menggantikan
Sultan Trenggana. Jaka Tingkir pula yang memindahkan pusat kerajaan
dari Demak ke Pajang.
Pada masa yang demikian, tersebutlah seorang saudara muda seperguruan
dari Ki Ageng Pengging yang bernama Mahesa Jenar. Karena keadaan
sangat memaksa, Jaka Tingkir pergi meninggalkan kampung halaman,
sawah, ladang, serta wajah-wajah yang dicintainya. Ia merantau, untuk
menghindarkan diri dari hal-hal yang tak diinginkan.
Telah bertahun-tahun Mahesa Jenar mengabdikan dirinya kepada Negara
sebagai seorang prajurit. Tetapi karena masalah perbedaan ajaran
tentang kepercayaan, yang telah menimbulkan beberapa korban, ia
terpaksa mengundurkan diri, meskipun kesetiannya kepada Demak tidak
juga susut.
Hanya dengan bekal kepercayaan kepada diri sendiri serta kepercayaan
kepada Tuhan Yang Maha Esa, Mahesa Jenar mencari daerah baru yang
tidak ada lagi persoalan mereka yang berbeda pendapat mengenai
pelaksanaan ibadah untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa.
Mahesa Jenar adalah bekas seorang prajurit pilihan, pengawal raja. Ia
bertubuh tegap kekar, berdada bidang. Sepasang tangannya amat kokoh,
begitu mahir mempermainkan segala macam senjata, bahkan benda apapun
yang dipegangnya. Sepasang matanya yang dalam memancar dengan tajam
sebagai pernyataan keteguhan hatinya, tetapi keseluruhan wajahnya
tampak bening dan lembut.
Ia adalah kawan bermain Ki Ageng Sela pada masa kanak-kanaknya. Ki
Ageng Sela inilah yang kemudian menjadi salah seorang guru dari Mas
Karebet, yang juga disebut Jaka Tingkir, sebelum menduduki tahta
kerajaan.
Meskipun mereka bukan berasal dari satu perguruan, tetapi karena
persahabatan mereka yang karib, maka seringkali mereka berdua tampak
berlatih bersama. Saling memberi dan menerima atas izin guru mereka
masing-masing. Gerak Mahesa Jenar sedikit kalah cekatan dibanding
dengan Sela yang menurut cerita adalah cucu seorang bidadari yang
bernama Nawangwulan. Betapa gesitnya tangan Ki Ageng Sela, sampai
orang percaya bahwa ia mampu menangkap petir.
Tetapi Mahesa Jenar lebih tangguh dan kuat. Dengan gerak yang
sederhana, apabila dikehendaki ia mampu membelah batu sebesar kepala
kerbau dengan tangannya. Apalagi kalau ia sengaja memusatkan
tenaganya.
Pada malam yang kelam itu Mahesa Jenar mulai dengan perjalanannya dari
rumah almarhum kakak seperguruannya, Ki Kebo Kenanga di Pengging. Ia
sengaja menghindarkan diri dari pengamatan orang. Mula-mula Mahesa
Jenar berjalan ke arah selatan dengan menanggalkan pakaian
keprajuritan, dan kemudian membelok ke arah matahari terbenam.
Setelah beberapa hari berjalan, sampailah Mahesa Jenar di suatu
perbukitan yang terkenal sebagai bekas kerajaan seorang raksasa
bernama Prabu Baka, sehingga perbukitan itu kemudian dikenal dengan
nama Pegunungan Baka. Salah satu puncak dari perbukitan ini, yang
bernama Gunung Ijo, adalah daerah yang sering dikunjungi orang untuk
menyepi. Di sinilah dahulu Prabu Baka bertapa sampai diketemukan
seorang gadis yang tersesat ke puncak Gunung Ijo itu.
Mula-mula gadis itu akan dimakannya, tetapi niat itu diurungkan karena
pesona kecantikannya. Bahkan gadis itu kemudian diambilnya menjadi
permaisuri, ketika ia kemudian dapat menguasai kerajaan Prambanan.
Gadis cantik itulah yang kemudian dikenal dengan nama Roro Jonggrang.
Dan karena kecantikannya pula Roro Jonggrang oleh Bandung Bandawasa,
yang juga ingin memperistrinya setelah berhasil membunuh Prabu Baka,
disumpah menjadi patung batu. Candi tempat patung itu lah yang
kemudian terkenal dengan nama Candi Jonggrang.
Tetapi pada saat Mahesa Jenar menginjakkan kakinya di puncak bukit itu
terasalah sesuatu yang tak wajar. Beberapa waktu yang lalu ia pernah
mengunjungi daerah ini. Tetapi sekarang alangkah bedanya. Tempat ini
tidak lagi sebersih beberapa waktu berselang. Rumput-rumput liar
tumbuh di sana-sini.
Dan yang lebih mengejutkannya lagi, adalah ketika dilihatnya kerangka
manusia. Melihat kerangka manusia itu hati Mahesa Jenar menjadi tidak
enak. Ia menjadi sangat berhati-hati karenanya. Tetapi ia menjadi
tertarik untuk mengetahui keadaan di sekitar tempat itu. Ia menjadi
semakin tertarik lagi ketika dilihatnya tidak jauh dari tempat itu
terdapat beberapa macam benda alat minum dan batu-batu yang diatur
sebagai sebuah tempat pemujaan. Dan di atasnya terdapat pula sebuah
kerangka manusia.
Mahesa Jenar pernah belajar dalam pelajaran tata berkelahi mengenai
beberapa hal tentang tubuh manusia. Itulah sebabnya maka ia dapat
menduga bahwa rangka-rangka itu adalah rangka perempuan yang tidak
tampak adanya tanda-tanda penganiayaan.
Cepat ia dapat menebak, bahwa beberapa waktu berselang telah terjadi
suatu upacara aneh di atas bukit ini. Tetapi ia tidak tahu macam
upacara itu.
Untuk mengetahui hal itu, ia mengharap mendapat keterangan dari
penduduk sekitarnya. Tetapi Mahesa Jenar menjadi kecewa ketika ia
melayangkan pandangannya ke sekitar bukit itu. Tadi ia sama sekali
tidak memperhatikan bahwa tanah-tanah pategalan telah berubah menjadi
belukar. Agaknya sudah beberapa waktu tanah-tanah itu tidak lagi
digarap.
Ketika ia sudah tidak mungkin lagi untuk mendapatkan keterangan lebih
banyak lagi tentang kerangka-kerangka tersebut, maka dengan
pertanyaan-pertanyaan yang berputar-putar dikepalanya, Mahesa Jenar
melanjutkan perjalanannya ke barat, menuruni lembah dan mendaki
tebing-tebing perbukitan sehingga sampailah ia di atas puncak pusat
kerajaan Prabu Baka.
Dari atas bukit itu Mahesa Jenar melayangkan pandangannya jauh di
dataran sekitarnya. Di sebelah utara tampaklah kumpulan candi yang
terkenal itu, yaitu Candi Jonggrang. Sempat juga Mahesa Jenar
mengagumi karya yang telah menghasilkan candi-candi itu. Menurut
cerita, candi-candi yang berjumlah 1.000 itu adalah hasil kerja
Bandung Bandawasa hanya dalam satu malam saja, untuk memenuhi
permintaan Roro Jonggrang. Tetapi ketika ternyata Bandung Bandawasa
akan dapat memenuhi permintaan itu, Roro Jonggrang berbuat curang.
Maka marahlah Bandung Bandawasa. Jonggrang disumpah sehingga menjadi
candi yang ke 1.000.
Candi itu dikitari oleh persawahan yang ditumbuhi batang-batang padi
yang sedang menghijau. Daun-daunnya mengombak seperti mengalirnya
gelombang-gelombang kecil di pantai karena permainan angin.
(To be continue)
AWAN yang hitam pekat bergulung-gulung di langit seperti lumpur yang
diaduk dan kemudian dihanyutkan oleh banjir, sehingga malam gelap itu
menjadi semakin hitam. Sehitam suasana Kerajaan Demak pada waktu itu,
dimana terjadi perebutan pengaruh antara Wali pendukung kerajaan Demak
dengan Syeh Siti Jenar.
Pertentangan itu sedemikian meruncingnya sehingga terpaksa
diselesaikan dengan pertumpahan darah.
Syeh Siti Jenar dilenyapkan. Disusul dengan terbunuhnya Ki Kebo
Kenanga yang juga disebut Ki Ageng Pengging. Ki Kebo Kenanga ini
meninggalkan seorang putra bernama Mas Karebet. Karena dibesarkan oleh
Nyai Ageng Tingkir, kemudian Mas Karebet juga disebut Jaka Tingkir.
Jaka Tingkir inilah yang kemudian akan menjadi raja, menggantikan
Sultan Trenggana. Jaka Tingkir pula yang memindahkan pusat kerajaan
dari Demak ke Pajang.
Pada masa yang demikian, tersebutlah seorang saudara muda seperguruan
dari Ki Ageng Pengging yang bernama Mahesa Jenar. Karena keadaan
sangat memaksa, Jaka Tingkir pergi meninggalkan kampung halaman,
sawah, ladang, serta wajah-wajah yang dicintainya. Ia merantau, untuk
menghindarkan diri dari hal-hal yang tak diinginkan.
Telah bertahun-tahun Mahesa Jenar mengabdikan dirinya kepada Negara
sebagai seorang prajurit. Tetapi karena masalah perbedaan ajaran
tentang kepercayaan, yang telah menimbulkan beberapa korban, ia
terpaksa mengundurkan diri, meskipun kesetiannya kepada Demak tidak
juga susut.
Hanya dengan bekal kepercayaan kepada diri sendiri serta kepercayaan
kepada Tuhan Yang Maha Esa, Mahesa Jenar mencari daerah baru yang
tidak ada lagi persoalan mereka yang berbeda pendapat mengenai
pelaksanaan ibadah untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa.
Mahesa Jenar adalah bekas seorang prajurit pilihan, pengawal raja. Ia
bertubuh tegap kekar, berdada bidang. Sepasang tangannya amat kokoh,
begitu mahir mempermainkan segala macam senjata, bahkan benda apapun
yang dipegangnya. Sepasang matanya yang dalam memancar dengan tajam
sebagai pernyataan keteguhan hatinya, tetapi keseluruhan wajahnya
tampak bening dan lembut.
Ia adalah kawan bermain Ki Ageng Sela pada masa kanak-kanaknya. Ki
Ageng Sela inilah yang kemudian menjadi salah seorang guru dari Mas
Karebet, yang juga disebut Jaka Tingkir, sebelum menduduki tahta
kerajaan.
Meskipun mereka bukan berasal dari satu perguruan, tetapi karena
persahabatan mereka yang karib, maka seringkali mereka berdua tampak
berlatih bersama. Saling memberi dan menerima atas izin guru mereka
masing-masing. Gerak Mahesa Jenar sedikit kalah cekatan dibanding
dengan Sela yang menurut cerita adalah cucu seorang bidadari yang
bernama Nawangwulan. Betapa gesitnya tangan Ki Ageng Sela, sampai
orang percaya bahwa ia mampu menangkap petir.
Tetapi Mahesa Jenar lebih tangguh dan kuat. Dengan gerak yang
sederhana, apabila dikehendaki ia mampu membelah batu sebesar kepala
kerbau dengan tangannya. Apalagi kalau ia sengaja memusatkan
tenaganya.
Pada malam yang kelam itu Mahesa Jenar mulai dengan perjalanannya dari
rumah almarhum kakak seperguruannya, Ki Kebo Kenanga di Pengging. Ia
sengaja menghindarkan diri dari pengamatan orang. Mula-mula Mahesa
Jenar berjalan ke arah selatan dengan menanggalkan pakaian
keprajuritan, dan kemudian membelok ke arah matahari terbenam.
Setelah beberapa hari berjalan, sampailah Mahesa Jenar di suatu
perbukitan yang terkenal sebagai bekas kerajaan seorang raksasa
bernama Prabu Baka, sehingga perbukitan itu kemudian dikenal dengan
nama Pegunungan Baka. Salah satu puncak dari perbukitan ini, yang
bernama Gunung Ijo, adalah daerah yang sering dikunjungi orang untuk
menyepi. Di sinilah dahulu Prabu Baka bertapa sampai diketemukan
seorang gadis yang tersesat ke puncak Gunung Ijo itu.
Mula-mula gadis itu akan dimakannya, tetapi niat itu diurungkan karena
pesona kecantikannya. Bahkan gadis itu kemudian diambilnya menjadi
permaisuri, ketika ia kemudian dapat menguasai kerajaan Prambanan.
Gadis cantik itulah yang kemudian dikenal dengan nama Roro Jonggrang.
Dan karena kecantikannya pula Roro Jonggrang oleh Bandung Bandawasa,
yang juga ingin memperistrinya setelah berhasil membunuh Prabu Baka,
disumpah menjadi patung batu. Candi tempat patung itu lah yang
kemudian terkenal dengan nama Candi Jonggrang.
Tetapi pada saat Mahesa Jenar menginjakkan kakinya di puncak bukit itu
terasalah sesuatu yang tak wajar. Beberapa waktu yang lalu ia pernah
mengunjungi daerah ini. Tetapi sekarang alangkah bedanya. Tempat ini
tidak lagi sebersih beberapa waktu berselang. Rumput-rumput liar
tumbuh di sana-sini.
Dan yang lebih mengejutkannya lagi, adalah ketika dilihatnya kerangka
manusia. Melihat kerangka manusia itu hati Mahesa Jenar menjadi tidak
enak. Ia menjadi sangat berhati-hati karenanya. Tetapi ia menjadi
tertarik untuk mengetahui keadaan di sekitar tempat itu. Ia menjadi
semakin tertarik lagi ketika dilihatnya tidak jauh dari tempat itu
terdapat beberapa macam benda alat minum dan batu-batu yang diatur
sebagai sebuah tempat pemujaan. Dan di atasnya terdapat pula sebuah
kerangka manusia.
Mahesa Jenar pernah belajar dalam pelajaran tata berkelahi mengenai
beberapa hal tentang tubuh manusia. Itulah sebabnya maka ia dapat
menduga bahwa rangka-rangka itu adalah rangka perempuan yang tidak
tampak adanya tanda-tanda penganiayaan.
Cepat ia dapat menebak, bahwa beberapa waktu berselang telah terjadi
suatu upacara aneh di atas bukit ini. Tetapi ia tidak tahu macam
upacara itu.
Untuk mengetahui hal itu, ia mengharap mendapat keterangan dari
penduduk sekitarnya. Tetapi Mahesa Jenar menjadi kecewa ketika ia
melayangkan pandangannya ke sekitar bukit itu. Tadi ia sama sekali
tidak memperhatikan bahwa tanah-tanah pategalan telah berubah menjadi
belukar. Agaknya sudah beberapa waktu tanah-tanah itu tidak lagi
digarap.
Ketika ia sudah tidak mungkin lagi untuk mendapatkan keterangan lebih
banyak lagi tentang kerangka-kerangka tersebut, maka dengan
pertanyaan-pertanyaan yang berputar-putar dikepalanya, Mahesa Jenar
melanjutkan perjalanannya ke barat, menuruni lembah dan mendaki
tebing-tebing perbukitan sehingga sampailah ia di atas puncak pusat
kerajaan Prabu Baka.
Dari atas bukit itu Mahesa Jenar melayangkan pandangannya jauh di
dataran sekitarnya. Di sebelah utara tampaklah kumpulan candi yang
terkenal itu, yaitu Candi Jonggrang. Sempat juga Mahesa Jenar
mengagumi karya yang telah menghasilkan candi-candi itu. Menurut
cerita, candi-candi yang berjumlah 1.000 itu adalah hasil kerja
Bandung Bandawasa hanya dalam satu malam saja, untuk memenuhi
permintaan Roro Jonggrang. Tetapi ketika ternyata Bandung Bandawasa
akan dapat memenuhi permintaan itu, Roro Jonggrang berbuat curang.
Maka marahlah Bandung Bandawasa. Jonggrang disumpah sehingga menjadi
candi yang ke 1.000.
Candi itu dikitari oleh persawahan yang ditumbuhi batang-batang padi
yang sedang menghijau. Daun-daunnya mengombak seperti mengalirnya
gelombang-gelombang kecil di pantai karena permainan angin.
(To be continue)
Senin, 15 Juni 2009
Dilema.......
By : Gusti
aku terlanjur masuk dalam kubangannya....
Cinta....
ketika jauh, ku rasa gaung itu mampu menyentuh kalbu ku.....
meraba keluh asa ku......
dan kini ia kembali...
menawarkan sejuta cawan candu keikhlasan kasih sayang yang sempat terdunda karena ulahnya sendiri
Aku dilema,
antara ada dan tak ada....
Aku kosong....
kala ia datang dengan tulus,
ada candu lain yang menawarkan keindahan masa depan
Haruskah ku kurus terjang lawan luruh dilema lara dengan maya keindahan yang belum pasyi????
Haruskah ku kembali padanya?
Mempercayai kembali maksud hatinya????
.............
ku tulis sajak ini kala asa meninggi tebing
Kala langit membelalak lebar pada raya
kala senyum tak lagi merekah luwes dalam raga ku
Aku benci padamu,
Aku benci padamu, karna kamu tak jua luruh dalam khayal ku
Aku benci padamu, karna aku tak dapat membohongi perasaan ku,
Aku masih sayang kamu......
Entah apa yang ada padamu....
Rasa ini tak dapat hilang
bagai debu abadi di gurun pasir
bagai padang rumput liar yang selalu menggeliat gatal
..............
ku tulis sajak ini kala ku melayang jauh dalam mayaku
meringkih luruh sekujur tubuh ku
aku sayang kamu bi....
sebelum dan sesudah kau menguji kesetiaanku.....
tahukah kau tentang itu??????
Jika Tuhan menetapkan,
Aku ingin kau menjadi imam dan ayah dari anak-anak ku kelak....
Selamanya.....
aku terlanjur masuk dalam kubangannya....
Cinta....
ketika jauh, ku rasa gaung itu mampu menyentuh kalbu ku.....
meraba keluh asa ku......
dan kini ia kembali...
menawarkan sejuta cawan candu keikhlasan kasih sayang yang sempat terdunda karena ulahnya sendiri
Aku dilema,
antara ada dan tak ada....
Aku kosong....
kala ia datang dengan tulus,
ada candu lain yang menawarkan keindahan masa depan
Haruskah ku kurus terjang lawan luruh dilema lara dengan maya keindahan yang belum pasyi????
Haruskah ku kembali padanya?
Mempercayai kembali maksud hatinya????
.............
ku tulis sajak ini kala asa meninggi tebing
Kala langit membelalak lebar pada raya
kala senyum tak lagi merekah luwes dalam raga ku
Aku benci padamu,
Aku benci padamu, karna kamu tak jua luruh dalam khayal ku
Aku benci padamu, karna aku tak dapat membohongi perasaan ku,
Aku masih sayang kamu......
Entah apa yang ada padamu....
Rasa ini tak dapat hilang
bagai debu abadi di gurun pasir
bagai padang rumput liar yang selalu menggeliat gatal
..............
ku tulis sajak ini kala ku melayang jauh dalam mayaku
meringkih luruh sekujur tubuh ku
aku sayang kamu bi....
sebelum dan sesudah kau menguji kesetiaanku.....
tahukah kau tentang itu??????
Jika Tuhan menetapkan,
Aku ingin kau menjadi imam dan ayah dari anak-anak ku kelak....
Selamanya.....
Senin, 18 Mei 2009
Jumat, 15 Mei 2009
Alam ku..
Senin, 27 April 2009
Aku Tak Bisa Mencintaimu Lagi
by Nurhayati Pujiastuti
Pelan saja Bagosa menurunkan kakinya yang berada di atas sofa dengan mata tertuju ke arah Aldi. Tak ada syarat yang terlihat dari mata yang tertuju lekat-lekat pada layar televisi.Bagosa menghembuskan napasnya kuat-kuat. Berharap Aldi akan menoleh ke arahnya, dan mengangguk mengerti dengan tindakan yang baru saja ia lakukan."Kenapa?" Sebuah tanya dari Aldi menghilang begitu saja ketika suara pintu yang ditutup keras-keras seperti dibanting terdengar menandingi suara Aldi.Tak ada tanggapan dari Aldi kecuali hanya mengedikkan bahunya dan menggelengkan kepalanya."Aku mau pulang," Bagosa mendekat ke arah Aldi. Ditepiskannya jemari Aldi yang ingin menyentuh jemarinya sambil menggeleng keras-keras. "Aku mau pulang," ulangnya. Kali ini Bagosa menendang kaki Aldi sedikit keras hingga Aldi meringis dan mengalihkan tatapanya pada Bagosa."Janjimu...."Bagosa mengangguk. Menghembuskan napasnya lagi. Ah, betapa ia sudah tak kuat dengan situasi yang ada. "Aku melakukan kesalahan," bisiknya.Aldi mengernyit. "Terlalu takut.""Masalahnya...," Bagosa menggeleng. Aldi tidak akan mengerti apa yang ada di hatinya setelah tadi tatapan dari Mama Aldi mengarah padanya. Meski dengan senyum, ia tahu senyum itu keluar cuma untuk basa-basi. Ada kebencian yang tersimpan. Ada kesinisan yang memaksanya untuk mengerti isyarat tidak suka akan kehadirannya di sini.Mungkin ia yang salah. Dan bodohnya ia, kenapa tadi begitu cueknya menaikkan salah satu kakinya ke sofa meskipun dengan posisi tertekuk karena tidak tahan dengan nyamuk yang menggigit kakinya."Bodohnya...!""Tunggu sampai film ini selesai kalau kamu mau diantar pulang."Bagosa menggeleng."Tadi katanya...?""Tiba-tiba aku sakit perut."Aldi terbahak. Melihat ekspresi Aldi yang tertawa itu, sebenarnya Bagosa ingin mengikuti untuk tertawa. Biasanya juga begitu yang mereka lakukan. Tapi ia mulai mendengar suara pintu kamar tidur utama terbuka dan langkah diseret menuju ke arah Aldi. Refleks, Bagosa berpindah tempat hingga posisinya tidak berdempetan dengan Aldi."Kamu tidak ke mana-mana hari ini, kan?" tanya itu ditujukan ke arah Aldi. Cuma Aldi. Karena mata itu tidak memandang ke arah Bagosa sedikit pun. Meliriknya pun tidak."Antar Bagosa pulang, Ma. Memangnya Mama mau....""Kamu harus antar Mama jam empat nanti. Sekarang sudah jam setengah empat."Sebuah pengusiran halus yang diucapkan seperti ultimatum dengan tindakan meninggalkan Aldi dan ia kembali masuk ke dalam kamar. Lagi-lagi dengan suara pintu yang sepertinya sengaja ditutup keras-keras."Aku harus pulang," Bagosa menatap Aldi."Mama memang begitu....""Aku harus....""Jangan takut begitu, dong. Lihat, muka kamu pucat seperti habis melihat hantu. Kebiasaan jelek Mama memang begitu. Terlalu selektif memilih calon menantu," Aldi meringis. "Ujian baru dimulai. Kamu tidak berniat untuk mundur, kan?"Tak peduli dengan apa yang Aldi katakan, Bagosa cepat beranjak dari duduknya. Tak berani ia menarik tangan Aldi yang terjulur seperti minta dibantu untuk bangkit dari duduknya."Harus pamit dulu sama Mama."Kalau Bagosa menyebut nama Tuhan berkali-kali dalam hatinya saat ini, itu dikarenakan ia takut dengan apa yang akan terjadi nanti setelah Aldi mengetuk pintu kamar tidur utama."Kamu harus pulang cepat...!" Cuma itu suara yang terdengar untuk menyahuti panggilan Aldi lewat ketukan pintu. Tak ada kepala yang tersembul untuk sekedar memamerkan senyum.Bagosa mengelus dadanya.Tiba-tiba ia merasakan belum siap dengan ujian yang Aldi katakan.
***
"Kenapa menghindariku?" tanya itu meluncur ketika Bagosa baru saja mengangkat horn telepon dan mendekatkannya ke telinganya. Ada yang terasa lain ketika mendengar suara Aldi di seberang sana. "Ada acara bagus, nih. Pertunjukan wayang orang...." Aldi terbahak. Pasti tidak suka, kan?""Bicara yang jelas!" protes Bagosa dengan suara sedikit meninggi. Kepalanya pening akibat kejadian di rumah Aldi kemarin. Dan sejak kemarin itu, ia memang berniat untuk tidak menghubungi atau bertemu dengan Aldi dalam sementara waktu. Perasaan sentimen dan sensitifnya harus dihilangkan dulu."Mama memintaku...," Aldi seperti sengaja menggantung kalimatnya. "Tidak percaya, kan?"Bagosa menguap. Sengaja mengeraskan suaranya agar Aldi tahu bahwa ia tak ingin mendengar ceritanya itu."Mama memintaku mengajakmu untuk menemaninya pergi ke pesta pernikahan anak kawannya...," Aldi tertawa lagi. "Ngerti kan meski bicaraku berbelit-belit begitu?""Kamu....""Waktu pertama jadi pacarku kan aku sudah bilang bahwa kamu akan melewati berbagai macam ujian dari Mamaku yang begitu sayang dengan anak sulungnya. Dan kamu bilang setuju sambil belajar mengerti karakter orang tua Jawa seperti Mamaku. Ingat juga kan waktu kamu bilang bahwa kamu ingin sekalian menghilangkan sifat cuekmu karena terlalu lama tinggal di Jakarta.""Tapi....""Mau belajar jadi Putri Solo, kan? Please, Bagosa...."Dan entahlah, apa yang membuat Bagosa pada akhirnya menganggukkan kepala dan mengucapkan kalimat 'ya' sebagai tanda persetujuan atas ajakan Aldi.Setelah horn telepon diletakkan pada tempatnya, yang terpikirkan di kepala Bagosa cuma satu. Busana apa yang harus dikenakannya nanti agar ujian dari Mama Aldi terhadapnya berjalan lancar?
***
Pesta pernikahan itu sebenarnya meriah. Dan makanan yang dihidangkan pun menarik selera. Tapi segalanya jadi berantakan karena Bagosa tidak tertarik sama sekali akibat suasana hatinya yang tidak mendukung."Di Solo kos? Gadis-gadis Jakarta memang pemberani. Tapi kadang kurang dapat menyesuaikan diri dengan keadaan di sekeliling."Itu komentar pertama ketika Bagosa baru saja memasuki rumah Aldi. Aldi sepertinya sengaja disembunyikan hingga dikatakan anak itu sedang tidak ada di rumah."Warna pakaianmu tidak cocok untuk pesta malam ini."Komentar kedua yang masih bisa ditolerir Bagosa."Harusnya Aldi mendapatkan gadis seperti Rieke. Ingat gadis yang tadi dikenalkan, kan? Orangtuanya cukup berpendidikan dan akrab dengan keluarga kami. Tapi dasar saja Aldi yang keras kepala. Mama harus menuruti keinginannya dahulu. Yang Mama yakin cuma satu. Pada suatu saat, Aldi pasti mendapatkan gadis seperti yang Mama inginkan. Untuk sementara waktu, biar Mama yang bersabar. Baru tahun kemarin lulus SMA, tentunya agak sulit untuk memaksa menentukan gadis pilihan Mama."Komentar ketiga yang berkepanjangan yang membuat Bagosa menulikan telinganya dengan mencoba berkonsentrasi pada keadaan ramai di sekelilingnya."Lekas-lekaslah kamu mencari laki-laki lain biar Aldi tidak lagi dekat-dekat denganmu."Ada tambahan sakit hati lagi."Calon menantu? Bukan. Kebetulan sekali saja anak-anak sedang tidak ada di rumah. Jadi saya mengajak gadis ini. Katanya ingin belajar banyak tentang Solo. Gadis Jakarta. Maklum...."Tawa yang meluncur itu dengan mata yang melirik ke arah Bagosa membuat Bagosa menjadi muak.Makanan dan keramaian tidak lagi menarik perhatiannya. Ia cuma ingin cepat-cepat pulang. Ia cuma ingin cepat-cepat menumpahkan tangisnya di dalam kamarnya.
***
"Bagosa...."Masih dengan ransel di punggungnya, Bagosa jongkok di bawah pohon di halaman kampus. Seperti tidak mempedulikan kehadiran Aldi, tangan Bagosa sibuk membuka lembaran koran yang terhampar di hadapannya."Kamu marah?"Bagosa diam."Ujiannya masih banyak dan sepertinya aku sudah tidak kuat untuk bertahan."Bagosa diam."Bagosa, please...."Bagosa cuma diam. Aldi seperti cowok cengeng begitu. Wajahnya terlihat memelas ketika memandangi Bagosa. Ah, dungu sekali Bagosa bisa menambatkan hati pada cowok itu.Gara-bara bertabrakan di kantin kampus. Kebetulan Bagosa sedang sibuk memesan minuman untuk rapat organisasi dan Aldi tengah bersiap membayar makanannya.Tidak saling mengenal. Tapi swear saja, Bagosa sudah tertarik ketika melihat Aldi untuk pertama kali. Makanya acara tabrakan di kantin itu bisa jadi sarana yang menyenangkan untuk Bagosa karena bisa lebih mengenal Aldi.Sesuatu kemudian akhirnya memang berlanjut. Yakin saja bahwa cowok pendiam seperti Aldi, jatuhnya justru pada cewek-cewek seperti dirinya.Dan kenyataan itu terjadi. Tapi sayangnya, Bagosa tidak pernah memperhitungkan yang lain. Kecuekannya yang disenangi Aldi ternyata sulit untuk diterima oleh Mama Aldi."Gue udah dapat cowok Solo. Asli, lho. Kalem orangnya. Yakin deh, kalau bukan gue yang selingkuh, pasti hubungan kita akan awet selamanya," begitu sms yang Bagosa kirim untuk teman-temannya di Jakarta."Bagosa...."Sentuhan jemari Aldi pada rambut Bagosa membuat Bagosa mau tidak mau harus memperhatikan Aldi."Kamu marah?""Masalahnya....""Yang tidak cocok cuma Mama, kan? Kedua adikku justru dekat denganmu. Kitty beberapa hari belakangan ini sering menanyakan kamu. Ada konser musik grup kesayangannya yang akan tampil di GOR Manahan. Dia ingin mengajakmu.""Masalahnya....""Aku kan bisa merayu Mama."Bagosa terdiam untuk beberapa saat. Kasihan juga sebenarnya melihat wajah Aldi yang memelas. Tapi sakit di hatinya belum bisa hilang cepat. Yang ada cuma bayangan Mama Aldi dengan senyum sinis dan kalimat yang meluncur menyakitkan."Bagosa....""Tidak tertarik dekat dengan gadis-gadis yang ditawarkan Mamamu?""Kamu....""Kalau kamu tertarik, sebelum yang ada di hati semakin besar, aku bisa mundur. Masih banyak cadanganku." Sengaja kalimat itu diucapkan Bagosa. Ditambahi dengan gerakan tangan Bagosa yang melambai ke arah beberapa cowok yang melintasinya. Lalu tertawa menggoda mereka."Mungkin Mama benar...," pada akhirnya Aldi melangkah meninggalkan Bagosa tanpa menoleh lagi.Dan Bagosa tidak mengerti, ia harus tertawa atau menangis untuk saat ini.
***
Rumah besar berkesan angkuh yang terletak di jalan Slamet Riyadi itu, sebenarnya sudah ingin Bagosa tinggalkan beberapa waktu yang lalu ketika keputusasaan telah menderanya. Tekadnya sudah bulat. Ia tidak ingin terikat dengan cowok cengeng. Begitu banyak cowok yang jatuh cinta padanya, lalu kenapa ia harus bersandar pada Aldi yang berada di bawah pengaruh sangat kuat dari Mamanya?Bagosa mengusap wajahnya.Berapa lama ia tidak menjumpai Aldi? Seminggu? Dua minggu? Rasanya lebih. Dan ia tidak berniat menghitungnya karena sudah ia tanamkan dalam-dalam bahwa Aldi cuma bagian kecil dari kehidupannya di kota kecil seperti Solo."Mas Aldi tabrakan. Gara-gara Mama, sih. Sepanjang perjalanan Mama ngomel terus sama Mas Aldi. Trus, Mas Aldi jadi tidak konsentrasi. Trus...," begitu pengakuan Kitty pada Bagosa di telepon. Isak tangisnya jelas sekali membuat Bagosa yang hampir terlelap tidur jadi lantas membuka matanya lebar-lebar.Bagosa masih diam menyimak."Di rumah sakit, cuma nama Mbak Bagosa yang dipanggil-panggil. Kasihan, kan?"Dan kalimat itu menyentuh perasaan Bagosa. Tapi belum ada niat di hatinya untuk datang mengunjungi Aldi. Masalahnya, ia cuma takut Kitty berbohong karena disuruh Aldi. Masalahnya bayang-bayang Mama Aldi menghantuinya.Sebenarnya, bisa saja ia bersikap tidak peduli. Tapi itu tidak berani ia lakukan. Setahun tinggal di Solo telah mendidiknya banyak hal tentang kesopanan yang harus diikuti.Sampai, sebuah ketukan di pintu kamar kosnya mengejutkannya. Dan hampir membuat Bagosa loncat dari tempatnya berdiri."Aldi kecelakaan. Mama berharap banyak padamu...." Cuma kalimat itu yang terucap dengan airmata yang tak henti mengalir, yang pada akhirnya meruntuhkan hati Bagosa. Entah ke mana ia buang sakit hatinya pada saat itu.Dan kalau sekarang, besok maupun seterusnya Bagosa berdiri dan menjadi bagian dari rumah besar itu, jangan salahkan dirinya. Salahkan takdir yang membuatnya harus mengikuti apa yang Tuhan atur.Sebuah kesombongan barangkali harus diruntuhkan dengan peristiwa kecelakaan itu."Bagosa...."Sebenarnya Bagosa sudah mendengar bunyi derit kursi roda. Tapi Bagosa mencoba untuk tidak begitu antusias menyambutnya. Sebagian hatinya juga mendukung hal itu."Aku menunggumu sejak siang tadi. Kenapa baru datang? Banyak kuliah tambahan atau terlalu banyak teman yang mengajakmu pergi? Frans dan lainnya pasti senang ya, melihat aku jadi lumpuh begini. Dia masih mengejar-ngejar kamu, kan?"Seperti tidak peduli, Bagosa justru menghampiri rumpun melati tak jauh dari tempatnya. Beberapa bunga yang ada diambilnya dan dimasukkan ke dalam saku celana jeansnya."Mama menyuruhmu untuk menemaniku sampai malam nanti. Yang lainnya pergi. Ada buku-buku yang harus kamu bacakan untukku. Sekarang, aku lebih senang mendengar suaramu membacakan cerita untukku daripada aku membacanya sendiri."Bagosa menghembuskan napasnya. Sampai terlihat oleh matanya tirai di kamar tidur utama tersingkap dan wajah Mama terlihat memperhatikan. Tapi cepat-cepat ditutup kembali setelah mengetahui Bagosa memperhatikan hal itu."Bagosa, liburan ini kamu tidak jadi ke Jakarta, kan? Aku bisa frustasi kalau kamu pergi. Lagipula, Mama sudah merestui hubungan kita. Kata Mama, kamu sudah seperti gadis Jawa. Ah, kalau Papa masih ada, beliau pasti senang berkenalan denganmu."Bagosa menghembuskan napasnya lagi. Lagi. Kakinya bergerak mendekati Aldi dan mendorong kursi roda Aldi perlahan."Aku mencintaimu, Bagosa...."Bagosa diam. Ada yang menitik perlahan yang cepat dihapuskannya ketika mendengar suara langkah diseret menuju ke tempat ia dan Aldi berada. Mama!"Mama merestui, kan?" tanya Aldi pada Mama.Dan Bagosa melihat kepala yang mengangguk perlahan. Namun sorot matanya terlihat kaku dan masih tak bersahabat.Bagosa mengelus dadanya. Seperti mencari tahu apa yang ada di hatinya.Rasa-rasanya, tidak sebesar dulu apa yang tersimpan di hatinya untuk Aldi. Semuanya sudah berubah. Dan memang ia gadis yang cepat berubah.Bagosa menggigit bibirnya.Belum ada bayangan cowok lain memang. Tapi cinta di hatinya untuk Aldi luntur perlahan. Aldi bukan tipe seperti yang ia inginkan. Lagipula, ia bukan tipe yang diinginkan Mama Aldi."Bagosa aku mencintaimu...."Bagosa tak menjawab tapi terus mendorong kursi roda Aldi.Saat ini, hatinya merasa sunyi.Saat ini, ia seperti menjadi orang lain! ©
***
"Kenapa menghindariku?" tanya itu meluncur ketika Bagosa baru saja mengangkat horn telepon dan mendekatkannya ke telinganya. Ada yang terasa lain ketika mendengar suara Aldi di seberang sana. "Ada acara bagus, nih. Pertunjukan wayang orang...." Aldi terbahak. Pasti tidak suka, kan?""Bicara yang jelas!" protes Bagosa dengan suara sedikit meninggi. Kepalanya pening akibat kejadian di rumah Aldi kemarin. Dan sejak kemarin itu, ia memang berniat untuk tidak menghubungi atau bertemu dengan Aldi dalam sementara waktu. Perasaan sentimen dan sensitifnya harus dihilangkan dulu."Mama memintaku...," Aldi seperti sengaja menggantung kalimatnya. "Tidak percaya, kan?"Bagosa menguap. Sengaja mengeraskan suaranya agar Aldi tahu bahwa ia tak ingin mendengar ceritanya itu."Mama memintaku mengajakmu untuk menemaninya pergi ke pesta pernikahan anak kawannya...," Aldi tertawa lagi. "Ngerti kan meski bicaraku berbelit-belit begitu?""Kamu....""Waktu pertama jadi pacarku kan aku sudah bilang bahwa kamu akan melewati berbagai macam ujian dari Mamaku yang begitu sayang dengan anak sulungnya. Dan kamu bilang setuju sambil belajar mengerti karakter orang tua Jawa seperti Mamaku. Ingat juga kan waktu kamu bilang bahwa kamu ingin sekalian menghilangkan sifat cuekmu karena terlalu lama tinggal di Jakarta.""Tapi....""Mau belajar jadi Putri Solo, kan? Please, Bagosa...."Dan entahlah, apa yang membuat Bagosa pada akhirnya menganggukkan kepala dan mengucapkan kalimat 'ya' sebagai tanda persetujuan atas ajakan Aldi.Setelah horn telepon diletakkan pada tempatnya, yang terpikirkan di kepala Bagosa cuma satu. Busana apa yang harus dikenakannya nanti agar ujian dari Mama Aldi terhadapnya berjalan lancar?
***
Pesta pernikahan itu sebenarnya meriah. Dan makanan yang dihidangkan pun menarik selera. Tapi segalanya jadi berantakan karena Bagosa tidak tertarik sama sekali akibat suasana hatinya yang tidak mendukung."Di Solo kos? Gadis-gadis Jakarta memang pemberani. Tapi kadang kurang dapat menyesuaikan diri dengan keadaan di sekeliling."Itu komentar pertama ketika Bagosa baru saja memasuki rumah Aldi. Aldi sepertinya sengaja disembunyikan hingga dikatakan anak itu sedang tidak ada di rumah."Warna pakaianmu tidak cocok untuk pesta malam ini."Komentar kedua yang masih bisa ditolerir Bagosa."Harusnya Aldi mendapatkan gadis seperti Rieke. Ingat gadis yang tadi dikenalkan, kan? Orangtuanya cukup berpendidikan dan akrab dengan keluarga kami. Tapi dasar saja Aldi yang keras kepala. Mama harus menuruti keinginannya dahulu. Yang Mama yakin cuma satu. Pada suatu saat, Aldi pasti mendapatkan gadis seperti yang Mama inginkan. Untuk sementara waktu, biar Mama yang bersabar. Baru tahun kemarin lulus SMA, tentunya agak sulit untuk memaksa menentukan gadis pilihan Mama."Komentar ketiga yang berkepanjangan yang membuat Bagosa menulikan telinganya dengan mencoba berkonsentrasi pada keadaan ramai di sekelilingnya."Lekas-lekaslah kamu mencari laki-laki lain biar Aldi tidak lagi dekat-dekat denganmu."Ada tambahan sakit hati lagi."Calon menantu? Bukan. Kebetulan sekali saja anak-anak sedang tidak ada di rumah. Jadi saya mengajak gadis ini. Katanya ingin belajar banyak tentang Solo. Gadis Jakarta. Maklum...."Tawa yang meluncur itu dengan mata yang melirik ke arah Bagosa membuat Bagosa menjadi muak.Makanan dan keramaian tidak lagi menarik perhatiannya. Ia cuma ingin cepat-cepat pulang. Ia cuma ingin cepat-cepat menumpahkan tangisnya di dalam kamarnya.
***
"Bagosa...."Masih dengan ransel di punggungnya, Bagosa jongkok di bawah pohon di halaman kampus. Seperti tidak mempedulikan kehadiran Aldi, tangan Bagosa sibuk membuka lembaran koran yang terhampar di hadapannya."Kamu marah?"Bagosa diam."Ujiannya masih banyak dan sepertinya aku sudah tidak kuat untuk bertahan."Bagosa diam."Bagosa, please...."Bagosa cuma diam. Aldi seperti cowok cengeng begitu. Wajahnya terlihat memelas ketika memandangi Bagosa. Ah, dungu sekali Bagosa bisa menambatkan hati pada cowok itu.Gara-bara bertabrakan di kantin kampus. Kebetulan Bagosa sedang sibuk memesan minuman untuk rapat organisasi dan Aldi tengah bersiap membayar makanannya.Tidak saling mengenal. Tapi swear saja, Bagosa sudah tertarik ketika melihat Aldi untuk pertama kali. Makanya acara tabrakan di kantin itu bisa jadi sarana yang menyenangkan untuk Bagosa karena bisa lebih mengenal Aldi.Sesuatu kemudian akhirnya memang berlanjut. Yakin saja bahwa cowok pendiam seperti Aldi, jatuhnya justru pada cewek-cewek seperti dirinya.Dan kenyataan itu terjadi. Tapi sayangnya, Bagosa tidak pernah memperhitungkan yang lain. Kecuekannya yang disenangi Aldi ternyata sulit untuk diterima oleh Mama Aldi."Gue udah dapat cowok Solo. Asli, lho. Kalem orangnya. Yakin deh, kalau bukan gue yang selingkuh, pasti hubungan kita akan awet selamanya," begitu sms yang Bagosa kirim untuk teman-temannya di Jakarta."Bagosa...."Sentuhan jemari Aldi pada rambut Bagosa membuat Bagosa mau tidak mau harus memperhatikan Aldi."Kamu marah?""Masalahnya....""Yang tidak cocok cuma Mama, kan? Kedua adikku justru dekat denganmu. Kitty beberapa hari belakangan ini sering menanyakan kamu. Ada konser musik grup kesayangannya yang akan tampil di GOR Manahan. Dia ingin mengajakmu.""Masalahnya....""Aku kan bisa merayu Mama."Bagosa terdiam untuk beberapa saat. Kasihan juga sebenarnya melihat wajah Aldi yang memelas. Tapi sakit di hatinya belum bisa hilang cepat. Yang ada cuma bayangan Mama Aldi dengan senyum sinis dan kalimat yang meluncur menyakitkan."Bagosa....""Tidak tertarik dekat dengan gadis-gadis yang ditawarkan Mamamu?""Kamu....""Kalau kamu tertarik, sebelum yang ada di hati semakin besar, aku bisa mundur. Masih banyak cadanganku." Sengaja kalimat itu diucapkan Bagosa. Ditambahi dengan gerakan tangan Bagosa yang melambai ke arah beberapa cowok yang melintasinya. Lalu tertawa menggoda mereka."Mungkin Mama benar...," pada akhirnya Aldi melangkah meninggalkan Bagosa tanpa menoleh lagi.Dan Bagosa tidak mengerti, ia harus tertawa atau menangis untuk saat ini.
***
Rumah besar berkesan angkuh yang terletak di jalan Slamet Riyadi itu, sebenarnya sudah ingin Bagosa tinggalkan beberapa waktu yang lalu ketika keputusasaan telah menderanya. Tekadnya sudah bulat. Ia tidak ingin terikat dengan cowok cengeng. Begitu banyak cowok yang jatuh cinta padanya, lalu kenapa ia harus bersandar pada Aldi yang berada di bawah pengaruh sangat kuat dari Mamanya?Bagosa mengusap wajahnya.Berapa lama ia tidak menjumpai Aldi? Seminggu? Dua minggu? Rasanya lebih. Dan ia tidak berniat menghitungnya karena sudah ia tanamkan dalam-dalam bahwa Aldi cuma bagian kecil dari kehidupannya di kota kecil seperti Solo."Mas Aldi tabrakan. Gara-gara Mama, sih. Sepanjang perjalanan Mama ngomel terus sama Mas Aldi. Trus, Mas Aldi jadi tidak konsentrasi. Trus...," begitu pengakuan Kitty pada Bagosa di telepon. Isak tangisnya jelas sekali membuat Bagosa yang hampir terlelap tidur jadi lantas membuka matanya lebar-lebar.Bagosa masih diam menyimak."Di rumah sakit, cuma nama Mbak Bagosa yang dipanggil-panggil. Kasihan, kan?"Dan kalimat itu menyentuh perasaan Bagosa. Tapi belum ada niat di hatinya untuk datang mengunjungi Aldi. Masalahnya, ia cuma takut Kitty berbohong karena disuruh Aldi. Masalahnya bayang-bayang Mama Aldi menghantuinya.Sebenarnya, bisa saja ia bersikap tidak peduli. Tapi itu tidak berani ia lakukan. Setahun tinggal di Solo telah mendidiknya banyak hal tentang kesopanan yang harus diikuti.Sampai, sebuah ketukan di pintu kamar kosnya mengejutkannya. Dan hampir membuat Bagosa loncat dari tempatnya berdiri."Aldi kecelakaan. Mama berharap banyak padamu...." Cuma kalimat itu yang terucap dengan airmata yang tak henti mengalir, yang pada akhirnya meruntuhkan hati Bagosa. Entah ke mana ia buang sakit hatinya pada saat itu.Dan kalau sekarang, besok maupun seterusnya Bagosa berdiri dan menjadi bagian dari rumah besar itu, jangan salahkan dirinya. Salahkan takdir yang membuatnya harus mengikuti apa yang Tuhan atur.Sebuah kesombongan barangkali harus diruntuhkan dengan peristiwa kecelakaan itu."Bagosa...."Sebenarnya Bagosa sudah mendengar bunyi derit kursi roda. Tapi Bagosa mencoba untuk tidak begitu antusias menyambutnya. Sebagian hatinya juga mendukung hal itu."Aku menunggumu sejak siang tadi. Kenapa baru datang? Banyak kuliah tambahan atau terlalu banyak teman yang mengajakmu pergi? Frans dan lainnya pasti senang ya, melihat aku jadi lumpuh begini. Dia masih mengejar-ngejar kamu, kan?"Seperti tidak peduli, Bagosa justru menghampiri rumpun melati tak jauh dari tempatnya. Beberapa bunga yang ada diambilnya dan dimasukkan ke dalam saku celana jeansnya."Mama menyuruhmu untuk menemaniku sampai malam nanti. Yang lainnya pergi. Ada buku-buku yang harus kamu bacakan untukku. Sekarang, aku lebih senang mendengar suaramu membacakan cerita untukku daripada aku membacanya sendiri."Bagosa menghembuskan napasnya. Sampai terlihat oleh matanya tirai di kamar tidur utama tersingkap dan wajah Mama terlihat memperhatikan. Tapi cepat-cepat ditutup kembali setelah mengetahui Bagosa memperhatikan hal itu."Bagosa, liburan ini kamu tidak jadi ke Jakarta, kan? Aku bisa frustasi kalau kamu pergi. Lagipula, Mama sudah merestui hubungan kita. Kata Mama, kamu sudah seperti gadis Jawa. Ah, kalau Papa masih ada, beliau pasti senang berkenalan denganmu."Bagosa menghembuskan napasnya lagi. Lagi. Kakinya bergerak mendekati Aldi dan mendorong kursi roda Aldi perlahan."Aku mencintaimu, Bagosa...."Bagosa diam. Ada yang menitik perlahan yang cepat dihapuskannya ketika mendengar suara langkah diseret menuju ke tempat ia dan Aldi berada. Mama!"Mama merestui, kan?" tanya Aldi pada Mama.Dan Bagosa melihat kepala yang mengangguk perlahan. Namun sorot matanya terlihat kaku dan masih tak bersahabat.Bagosa mengelus dadanya. Seperti mencari tahu apa yang ada di hatinya.Rasa-rasanya, tidak sebesar dulu apa yang tersimpan di hatinya untuk Aldi. Semuanya sudah berubah. Dan memang ia gadis yang cepat berubah.Bagosa menggigit bibirnya.Belum ada bayangan cowok lain memang. Tapi cinta di hatinya untuk Aldi luntur perlahan. Aldi bukan tipe seperti yang ia inginkan. Lagipula, ia bukan tipe yang diinginkan Mama Aldi."Bagosa aku mencintaimu...."Bagosa tak menjawab tapi terus mendorong kursi roda Aldi.Saat ini, hatinya merasa sunyi.Saat ini, ia seperti menjadi orang lain! ©
Cinta yang Sempat Terbagi
by Putra Gara
Ucapan salam yang disusul oleh ketukan pintu itu membangunkan Ale dari tidurnya. Ia lalu melangkah, karena suara itu amat dikenalnya.Pintu terkuak. Seorang gadis manis dengan bola mata indah berdiri di hadapan Ale.Ada senyum. "Kata Mbak Ratih, kamu tadi ke rumah?" Ale mengangguk sambil membalas senyum gadis itu."Maaf ya, Le. Ada eskul tadi di sekolah, jadinya pulang agak terlambat.""Sudahlah. Kamu masuk dulu, No. Ceritanya nanti saja di dalam." Ale melebarkan daun pintu. Retno melangkah masuk tanpa kata."Pulang sekolah, kamu langsung kemari?" tanya Ale, setelah mereka duduk.Retno mengangguk. Ia menarik napas panjang dan mengeluarkannya pelan-pelan. Tampak lelah, raut wajahnya. Ale memandang gadisnya itu. Saya sayang kamu, No, gumam hatinya.Ale tersenyum dan menggeleng pelan."Selesai eskul tadi, saya disuruh mengawasi anak kelas satu dan kelas dua yang lagi pada latihan paskibra. Awalnya sih saya menolak, karena saya ada janji dengan kamu. Tapi, Pak Indra mendesak saya agar mengawasi sekaligus memberi pengarahan kepada anak-anak tersebut. Beliau bilang, sayalah yang lebih mengerti tentang paskibra. Ya, sudah. Akhirnya saya nggak bisa menolak.""Saya mengerti, No," kata Ale. "Saya malah bangga kamu banyak kegiatan. Ke toko buku dan nonton, itu kan masih banyak waktu."Retno tersenyum. "Makasih, Le, kamu mau ngertiin saya."Ale balas tersenyum. Cinta memang butuh pengertian, No! batinnya. Tapi, kenapa kamu harus berduspa kepada saya? Tadi saya ke sekolah kamu, No. Hendak menjemput kamu. Nggak ada eskul, dan nggak ada latihan paskibra di sana. Kenapa kamu harus berbohong pada saya, No? Ayolah, cerita kepada saya, ada apa dengan kamu? Karena saya amat mencintai kamu."Kapan naik gunung lagi, Le?" Pertanyaan Retno membuyarkan lamunan Ale.Ale menoleh. "Mungkin liburan semester. Kuliah dan kegiatan amat menyita waktu saya," jawabnya."Nanti saya ikut lagi ya, Le," pinta Retno. "Saya sangat suka dengan suasana pegunungan. Alam hijau, sungai, dan ternak-ternak tani. Jakarta sumpek ya, Le. Polusinya sangat berbahaya."Ale tersenyum mendengar kata-kata Retno yang agak puitis itu. Ia jadi teringat kembali awal pertemuan dengan Retno.Waktu itu, Ale sedang melihat pesta seni pelajar se-DKI Jakarta di Bulungan. Ia yang sebagai wartawan lepas di sebuah majalah remaja, tertarik dengan seorang gadis yang telah memenangkan lomba baca puisi. Retno nama gadis itu.Lewat situlah akhirnya mereka jadi akrab. Ale suka main ke rumah Retno, sementara Retno sering main ke kosnya Ale. Mereka sering bertemu, sering jalan sama-sma. Akhirnya, timbul rasa suka di hati mereka masing-masing. Mereka berpacaran."Kamu masih menulis cerpen, Le?" tanya Retno."Masih." Ale tersenyum."Tapi kok sekarang saya jarang lihat. Setiap saya baca tulisan kamu, paling wawancara profil, atau liputan remaja. Kenapa, Le?"Ale kembali tersenyum. Ia amat suka dengan pertanyaan Retno itu. "Saya menulis cerpen kalau lagi ada ide. Kalau lagi suntuk, mumet, atau pusing, saja jarang bisa nulis cerpen," kata Ale."Berarti, saat ini kamu lagi suntuk, Le? Suntuk karena apa?"Ale agak gugup ditanya seperti itu. "Saya rasa, setiap penulis pasti pernah merasakan kesuntukan, No. Itu biasa. Begitu pun yang terjadi dengan saya," jawabnya, setelah diam beberapa detik.Retno memandang Ale dalam, seperti minta kebenaran dalam perkataannya.Ale cuma mengembuskan napasnya. Sebenarnya, saya suntuk karena memikirkan kamu, No. Sekarang, sepertinya kamu berubah. Kita jarang ketemu lagi. Kamu terlalu banyak alasan untuk menghindar dari saya. Bahkan tadi, kamu sudah berani berbohong kepada saya. Kenapa ini, No?!Apakah kamu sudah nggak menyukai saya lagi?! Atau kamu sudah bosan pacaran dengan saya?!
***
Diam-diam, Retno menyalahkan dirinya atas perbuatannya selama ini. Maafkan saya, Le. Akhir-akhir ini, saya sering mendustai kamu. Seharusnya, hal itu nggak pantas saya lakukan. Karena kamu begitu baik sama saya, kamu begitu mencintai dan menyayangi saya. Dan itu saya rasakan selama ini. Tapi... pantaskah saya untuk kamu cintai lagi, Le? Saya telah mendustai kamu, batin Retno.Tadi, sebenarnya Retno pergi dengan Roni. Padahal sebelumnya, ia sudah janjian dengan Ale mau nonton dan ke toko buku. Tapi pesona Roni telah membuat Retno lebih baik mengingkari janjinya dengan Ale. Apalagi Roni, sang Ketua OSIS itu begitu banyak dikagumi oleh cewek-cewek di sekolahnya.Kebanggaan?! Dapat menjadi pacar Roni memang suatu kebanggan. Tapi mendustai cinta tulus Ale, apakah suatu kebanggaan? Oh, ada sesak di dada Retno."No...," suara Ale memecah kebisuan.Retno menoleh."Kamu agak kurusan.""Benarkah?" Mata Retno begitu indah.Ale mengangguk."Mama juga bilang begitu. Saya sekarang agak kurusan. Mungkin karena saya terlalu memforsir diri dengan kegiatan sekolah ya, Le? Entahlah. Saya hanya mengikuti saran kamu, bahwa jadi remaja tuh harus kreatif. Harus dapat menggunakan waktu luang dengan berkegiatan, jangan hanya berpangku tangan.""Kamu tambah dewasa, No." Ale tersenyum. "Tapi kamu juga harus ingat, harus membatasi kegiatan kamu itu. Jangan terlalu diforsir. Nanti kamu malah jadi sakit."Retno tersenyum. "Makasih, Le. Akan saya usahakan," katanya. "O, iya, Le. Sudah sore. Saya pamit dulu, ya?" Retno bangkit.Ale melihat jam di dinding ruangan itu. "Oke, deh," balasnya."Nonton dan ke toko bukunya nanti saja ya, Le. Kamu nggak marah, kan?""Dengan datangnya kamu kemari, itu pun kamu sudah membayar janji kamu, No. Saya bahagia, karena kamu begitu memperhatikan saya."Retno tersenyum mendengar kata-kata Ale. Senyum yang menutupi sesak dadanya. Karena ia ke kosnya Ale juga hanya untuk menutupi kebohongan janjinya kepada Ale.
***
"Retno-nya pergi, Le!" Kata-kata Ratih berkelebat lagi, waktu Ale main ke rumahnya, tadi.Ale sempat tidak percaya. Karena setiap ia ingin bertemu dengan Retno, dibilangnya selalu tak ada, pergi. Apakah kebetulan, setiap kali Ale ingin bertemu dengan gadisnya itu, ditanya selalu pergi?"Suer, saya nggak bohong. Cuma saya nggak tahu, ditanya pergi ke mana," Ratih menyakinkan, waktu melihat wajah Ale yang tak percaya."Serius, Tih?" Ale tersenyum kecut.Tak menjawab, tapi Ratih mengangguk, pasti.Ada kecewa, dan tak mengerti, Ale pulang kembali."Le...," suara Ratih menghentikan langkah Ale.Ale menoleh."Saya lihat, akhir-akhir ini kamu jarang bersama Retno. Kenapa? Marahan, ya?"Ale tersenyum. "Nggak, Tih. Kebetulan saja, saya banyak kegiatan. Retno juga."Ratih cuma turut tersenyum, dan kembali memandang Ale yang pergi bersama motor trailnya.Saya rindu kamu, No. Saya kangen kamu. Adakah di hati kamu merasakan perasaan yang sama dengan saya? Ale memarkir sepeda motornya di samping swalayan.Hari Minggu yang cerah itu toko buku Gramedia Blok M begitu ramai. Ale naik eskalator ke lantai dua. Ia memang ingin mencari buku Pengantar Ilmu Komunikasi.Ale menuju rak majalah dan koran. Melihat beberapa majalah remaja. Setelah itu, ia mencari buku yang dicarinya. Tapi tiba-tiba, mata Ale milhat sosok gadis di rak buku, novel-novel remaja. Ada senyum, begitu Ale mengetahui siapa gadis itu. Ia lalu melangkah mendekati gadis itu."Retno," sapa Ale.Gadis yang disapa menoleh. "Eh, A-Ale...!"Retno tampaknya gugup begitu mengetahui yang menyapanya ternyata Ale."Saya tadi dari rumah mencari kamu. Kata Ratih, kamu pergi. Ya, sudah. Akhirnya saya kembali. Eh, nggak tahunya bakal ketemu di sini." Ale tersenyum.Retno semakin gugup, dan agak kikuk.Ale merasakan itu. "Kenapa, No?" tanyanya, heran.Retno berusaha untuk menenangkan dirinya. Ia gelisah karena di sampingnya ada Roni."Eh, i-ini. Kenalkan, teman sekolah saya." Retno memaksakan senyumnya.Roni mengulurkan tangan, dan menyebutkan namanya.Ale membalasnya."Kita, pulang, No," ajak Roni. Ada sorot mata tak suka di matanya kepada Ale.Retno semakin bingung saja mendengar ajakan Roni.Ale terpaku. Pikirannya langsung sadar dengan kegugupan Retno, sorot mata tak sukanya Roni. Inikah sebabnya kenapa kamu akhir-akhir ini selalu menghindar dari saya, No? Cowok inikah yang membuat kamu selalu mendustai saya?"Le...." Retno menjadi sangat serba salah."Pulanglah, No. Kamu pergi sama dia, pulangnya pun harus sama dia." Ale berusaha mengerti sambil memaksakan senyumnya. Meskipun hatinya saat itu terluka.Dengan rasa tak enak hati, Retno berjalan mengekor langkah Roni. Matanya tak sanggup lagi menatap atau menoleh ke arah Ale.
***
Pulang sekolah, Retno tampaknya kusut sekali."Ada apa, No?" tanya Mama.Retno memaksakan senyum. "Pusing, Ma. Habis ulangan," urainya sambil masuk kamar.Di dalam, Retno merebahkan tubuhnya. Kekesalannya yang dibawa dari sekolah langsung ditumpahkannya. Matanya memerah dan berkaca-kaca. Dadanya jadi sesak.Kamu hancurkan harapan dan hidup saya, Roni! Retno menangis. Ia kesal dengan Roni.Di sekolah tadi, waktu Retno ingin ke kantin, ia melihat Roni sedang bersama Elisa, bidadari kelas dua, adik kelasnya. Roni terlihat begitu akrab dan mesra dengan Elisa. Retno dibakar cemburu melihat itu semua. Tapi Roni tampaknya malah sengaja. Dia mencubit manja dan tertawa bersama Elisa sambil bercanda. Pulang sekolah, Retno mempertanyakan tentang itu semua."Saya nggak menyukai kamu, No. Kamu membohongi saya. Waktu kamu saya dekati, katanya kamu mengaku belum punya pacar. Seminggu yang lalu, waktu kita ke toko buku, kita bertemu dengan seseorang yang tampaknya begitu akrab dengan kamu. Saya tahu, itu pacar kamu. Teganya kamu mendustai dia. Saya berpikir, bahwa kamu nggak pantas jadi pacar saya, karena kamu amat pandai berdusta tentang cinta. Asal kamu tahu saja, No. Saya tak mau mengobral cinta saya. Saya merasa bersalah sekali dengan pacar kamu yang bertemu di toko buku itu, karena seakan merebut kamu dari sisinya. Sekarang, lupakanlah tentang kita," kata-kata Roni yang panjang itu amat menyayat di hati Retno. Sampai sekarang pun masih tersisa.Retno bangkit dari tidurnya. Memandang sebingkai foto yang ada di atas meja belajarnya. Foto berukuran kartu pos itu adalah foto Ale sewaktu di Rinjani. Retno mengusap permukaan foto itu. Maafkan saya, Le. Saya baru tahu, bahwa kamu begitu berarti dalam hidup saya. Saya ngaku salah. Sekarang, saya amat merindukan kamu. Maafkan saya, Le. Retno mengusap butiran bening di wajahnya."Retno...! No! Ada Ale," panggilan Mama mengagetkan Retno.Ale? Dada Retno berdegup kencang. Oh, kamu selalu datang saat saya rindu dan membutuhkan kamu, Le. Retno cepat-cepat membersihkan airmatanya. Ia keluar.Di ruang tamu, Retno mendapati Ale tersenyum ke arahnya."Apa kabar, No?" sapa Ale.Retno tersipu. Lalu memandang Ale dengan kerut di dahi. Pakaian yang Ale kenakan tidak seperti biasanya. "Mau ke mana kamu, Le?" tanyanya dengan gelora di dada.Ale kembali tersenyum. "Bukankah kamu pernah bilang, kalau saya naik gunung lagi, kamu akan ikut? Tadi pagi anak-anak pencinta alam di kampus saya ngajakin naik Gunung Salak di Bogor. Kamu mau ikut, No? Sekarang hari Sabtu. Naik Gunung Salak paling cuma satu hari. Hari Minggu sore kita sudah pulang. Tapi sebelumnya, kita ke perkampungan setempat dulu, karena anak-anak ada rencana bakti sosial di sana. Kalau kamu mau ikut, bawalah beberapa potong pakaian kamu yang agak lama, kemungkinan bisa dibagi-bagikan di sana. Pakaian kamu itu bisa berguna," jelas Ale.Retno tersenyum lebar. Kegembiraan di wajahnya tidak dapat ia sembunyikan. "Saya akan ikut, Le. Saya akan minta izin sama Mama. Mama pasti mengizinkan, karena ini juga masalah bakti sosial. Sebentar ya, Le. Saya salin dulu," kata Retno bersemangat.Ale memandang Retno yang masuk ke kamar dengan sejuta kebahagiaan, karena ia melihat Retno begitu ceria, tidak seperti sebulan yang lalu, yang kalau bertemu Ale tampaknya kikuk dan diam selalu. Apakah keceriaan kamu adalah kembalinya kamu untuk saya, No? Ale bertanya dalam hatinya.Beberapa saat kemudian, setelah Retno salin, mengepak ransel dan pamit kepada Mama, mereka pergi dengan motor trail Ale."Kita taruh motor dulu, No. Teman-teman menunggu di kampus." Ale melajukan sepeda motornya."Naik kereta, dong?" Retno mengencangkan pegangannya di perut Ale."He-eh." Ale mengangguk, lalu tersenyum.Motor terus melaju."Le, maafkan saya, ya? Saya telah....""Sudahlah," potong Ale. "Dengan maunya kamu ikut saya pun suatu bukti, bahwa kamu memang tetap milik saya. Setiap orang pasti pernah berbuat salah, No. Saya telah memaafkan kekhilafan kamu. Asal jangan berbuat salah kedua kalinya saja. Karena kamu pun tahu, saya amat mencintai kamu," kata Ale.Retno menggigit bibirnya. Ale begitu bijaksana, pikirnya. Ia amat menyesal, kenapa sempat membagi cintanya kepada cowok lain. Apa yang kurang pada Ale? Mandiri, berprestasi, sederhana, dan... ah, semua yang ada pada diri Ale adalah tipe cowok yang Retno suka, meskipun Ale tidak begitu tampan. Toh ketampanan belum tentu menjanjikan kebahagiaan. Sebab yang Retno tahu lewat baca, kebahagiaan itu ada karena diciptakan. Dan Retno ingin menciptakan segala kebahagiaannya bersama Ale.Mulai sekarang. ©
Ucapan salam yang disusul oleh ketukan pintu itu membangunkan Ale dari tidurnya. Ia lalu melangkah, karena suara itu amat dikenalnya.Pintu terkuak. Seorang gadis manis dengan bola mata indah berdiri di hadapan Ale.Ada senyum. "Kata Mbak Ratih, kamu tadi ke rumah?" Ale mengangguk sambil membalas senyum gadis itu."Maaf ya, Le. Ada eskul tadi di sekolah, jadinya pulang agak terlambat.""Sudahlah. Kamu masuk dulu, No. Ceritanya nanti saja di dalam." Ale melebarkan daun pintu. Retno melangkah masuk tanpa kata."Pulang sekolah, kamu langsung kemari?" tanya Ale, setelah mereka duduk.Retno mengangguk. Ia menarik napas panjang dan mengeluarkannya pelan-pelan. Tampak lelah, raut wajahnya. Ale memandang gadisnya itu. Saya sayang kamu, No, gumam hatinya.Ale tersenyum dan menggeleng pelan."Selesai eskul tadi, saya disuruh mengawasi anak kelas satu dan kelas dua yang lagi pada latihan paskibra. Awalnya sih saya menolak, karena saya ada janji dengan kamu. Tapi, Pak Indra mendesak saya agar mengawasi sekaligus memberi pengarahan kepada anak-anak tersebut. Beliau bilang, sayalah yang lebih mengerti tentang paskibra. Ya, sudah. Akhirnya saya nggak bisa menolak.""Saya mengerti, No," kata Ale. "Saya malah bangga kamu banyak kegiatan. Ke toko buku dan nonton, itu kan masih banyak waktu."Retno tersenyum. "Makasih, Le, kamu mau ngertiin saya."Ale balas tersenyum. Cinta memang butuh pengertian, No! batinnya. Tapi, kenapa kamu harus berduspa kepada saya? Tadi saya ke sekolah kamu, No. Hendak menjemput kamu. Nggak ada eskul, dan nggak ada latihan paskibra di sana. Kenapa kamu harus berbohong pada saya, No? Ayolah, cerita kepada saya, ada apa dengan kamu? Karena saya amat mencintai kamu."Kapan naik gunung lagi, Le?" Pertanyaan Retno membuyarkan lamunan Ale.Ale menoleh. "Mungkin liburan semester. Kuliah dan kegiatan amat menyita waktu saya," jawabnya."Nanti saya ikut lagi ya, Le," pinta Retno. "Saya sangat suka dengan suasana pegunungan. Alam hijau, sungai, dan ternak-ternak tani. Jakarta sumpek ya, Le. Polusinya sangat berbahaya."Ale tersenyum mendengar kata-kata Retno yang agak puitis itu. Ia jadi teringat kembali awal pertemuan dengan Retno.Waktu itu, Ale sedang melihat pesta seni pelajar se-DKI Jakarta di Bulungan. Ia yang sebagai wartawan lepas di sebuah majalah remaja, tertarik dengan seorang gadis yang telah memenangkan lomba baca puisi. Retno nama gadis itu.Lewat situlah akhirnya mereka jadi akrab. Ale suka main ke rumah Retno, sementara Retno sering main ke kosnya Ale. Mereka sering bertemu, sering jalan sama-sma. Akhirnya, timbul rasa suka di hati mereka masing-masing. Mereka berpacaran."Kamu masih menulis cerpen, Le?" tanya Retno."Masih." Ale tersenyum."Tapi kok sekarang saya jarang lihat. Setiap saya baca tulisan kamu, paling wawancara profil, atau liputan remaja. Kenapa, Le?"Ale kembali tersenyum. Ia amat suka dengan pertanyaan Retno itu. "Saya menulis cerpen kalau lagi ada ide. Kalau lagi suntuk, mumet, atau pusing, saja jarang bisa nulis cerpen," kata Ale."Berarti, saat ini kamu lagi suntuk, Le? Suntuk karena apa?"Ale agak gugup ditanya seperti itu. "Saya rasa, setiap penulis pasti pernah merasakan kesuntukan, No. Itu biasa. Begitu pun yang terjadi dengan saya," jawabnya, setelah diam beberapa detik.Retno memandang Ale dalam, seperti minta kebenaran dalam perkataannya.Ale cuma mengembuskan napasnya. Sebenarnya, saya suntuk karena memikirkan kamu, No. Sekarang, sepertinya kamu berubah. Kita jarang ketemu lagi. Kamu terlalu banyak alasan untuk menghindar dari saya. Bahkan tadi, kamu sudah berani berbohong kepada saya. Kenapa ini, No?!Apakah kamu sudah nggak menyukai saya lagi?! Atau kamu sudah bosan pacaran dengan saya?!
***
Diam-diam, Retno menyalahkan dirinya atas perbuatannya selama ini. Maafkan saya, Le. Akhir-akhir ini, saya sering mendustai kamu. Seharusnya, hal itu nggak pantas saya lakukan. Karena kamu begitu baik sama saya, kamu begitu mencintai dan menyayangi saya. Dan itu saya rasakan selama ini. Tapi... pantaskah saya untuk kamu cintai lagi, Le? Saya telah mendustai kamu, batin Retno.Tadi, sebenarnya Retno pergi dengan Roni. Padahal sebelumnya, ia sudah janjian dengan Ale mau nonton dan ke toko buku. Tapi pesona Roni telah membuat Retno lebih baik mengingkari janjinya dengan Ale. Apalagi Roni, sang Ketua OSIS itu begitu banyak dikagumi oleh cewek-cewek di sekolahnya.Kebanggaan?! Dapat menjadi pacar Roni memang suatu kebanggan. Tapi mendustai cinta tulus Ale, apakah suatu kebanggaan? Oh, ada sesak di dada Retno."No...," suara Ale memecah kebisuan.Retno menoleh."Kamu agak kurusan.""Benarkah?" Mata Retno begitu indah.Ale mengangguk."Mama juga bilang begitu. Saya sekarang agak kurusan. Mungkin karena saya terlalu memforsir diri dengan kegiatan sekolah ya, Le? Entahlah. Saya hanya mengikuti saran kamu, bahwa jadi remaja tuh harus kreatif. Harus dapat menggunakan waktu luang dengan berkegiatan, jangan hanya berpangku tangan.""Kamu tambah dewasa, No." Ale tersenyum. "Tapi kamu juga harus ingat, harus membatasi kegiatan kamu itu. Jangan terlalu diforsir. Nanti kamu malah jadi sakit."Retno tersenyum. "Makasih, Le. Akan saya usahakan," katanya. "O, iya, Le. Sudah sore. Saya pamit dulu, ya?" Retno bangkit.Ale melihat jam di dinding ruangan itu. "Oke, deh," balasnya."Nonton dan ke toko bukunya nanti saja ya, Le. Kamu nggak marah, kan?""Dengan datangnya kamu kemari, itu pun kamu sudah membayar janji kamu, No. Saya bahagia, karena kamu begitu memperhatikan saya."Retno tersenyum mendengar kata-kata Ale. Senyum yang menutupi sesak dadanya. Karena ia ke kosnya Ale juga hanya untuk menutupi kebohongan janjinya kepada Ale.
***
"Retno-nya pergi, Le!" Kata-kata Ratih berkelebat lagi, waktu Ale main ke rumahnya, tadi.Ale sempat tidak percaya. Karena setiap ia ingin bertemu dengan Retno, dibilangnya selalu tak ada, pergi. Apakah kebetulan, setiap kali Ale ingin bertemu dengan gadisnya itu, ditanya selalu pergi?"Suer, saya nggak bohong. Cuma saya nggak tahu, ditanya pergi ke mana," Ratih menyakinkan, waktu melihat wajah Ale yang tak percaya."Serius, Tih?" Ale tersenyum kecut.Tak menjawab, tapi Ratih mengangguk, pasti.Ada kecewa, dan tak mengerti, Ale pulang kembali."Le...," suara Ratih menghentikan langkah Ale.Ale menoleh."Saya lihat, akhir-akhir ini kamu jarang bersama Retno. Kenapa? Marahan, ya?"Ale tersenyum. "Nggak, Tih. Kebetulan saja, saya banyak kegiatan. Retno juga."Ratih cuma turut tersenyum, dan kembali memandang Ale yang pergi bersama motor trailnya.Saya rindu kamu, No. Saya kangen kamu. Adakah di hati kamu merasakan perasaan yang sama dengan saya? Ale memarkir sepeda motornya di samping swalayan.Hari Minggu yang cerah itu toko buku Gramedia Blok M begitu ramai. Ale naik eskalator ke lantai dua. Ia memang ingin mencari buku Pengantar Ilmu Komunikasi.Ale menuju rak majalah dan koran. Melihat beberapa majalah remaja. Setelah itu, ia mencari buku yang dicarinya. Tapi tiba-tiba, mata Ale milhat sosok gadis di rak buku, novel-novel remaja. Ada senyum, begitu Ale mengetahui siapa gadis itu. Ia lalu melangkah mendekati gadis itu."Retno," sapa Ale.Gadis yang disapa menoleh. "Eh, A-Ale...!"Retno tampaknya gugup begitu mengetahui yang menyapanya ternyata Ale."Saya tadi dari rumah mencari kamu. Kata Ratih, kamu pergi. Ya, sudah. Akhirnya saya kembali. Eh, nggak tahunya bakal ketemu di sini." Ale tersenyum.Retno semakin gugup, dan agak kikuk.Ale merasakan itu. "Kenapa, No?" tanyanya, heran.Retno berusaha untuk menenangkan dirinya. Ia gelisah karena di sampingnya ada Roni."Eh, i-ini. Kenalkan, teman sekolah saya." Retno memaksakan senyumnya.Roni mengulurkan tangan, dan menyebutkan namanya.Ale membalasnya."Kita, pulang, No," ajak Roni. Ada sorot mata tak suka di matanya kepada Ale.Retno semakin bingung saja mendengar ajakan Roni.Ale terpaku. Pikirannya langsung sadar dengan kegugupan Retno, sorot mata tak sukanya Roni. Inikah sebabnya kenapa kamu akhir-akhir ini selalu menghindar dari saya, No? Cowok inikah yang membuat kamu selalu mendustai saya?"Le...." Retno menjadi sangat serba salah."Pulanglah, No. Kamu pergi sama dia, pulangnya pun harus sama dia." Ale berusaha mengerti sambil memaksakan senyumnya. Meskipun hatinya saat itu terluka.Dengan rasa tak enak hati, Retno berjalan mengekor langkah Roni. Matanya tak sanggup lagi menatap atau menoleh ke arah Ale.
***
Pulang sekolah, Retno tampaknya kusut sekali."Ada apa, No?" tanya Mama.Retno memaksakan senyum. "Pusing, Ma. Habis ulangan," urainya sambil masuk kamar.Di dalam, Retno merebahkan tubuhnya. Kekesalannya yang dibawa dari sekolah langsung ditumpahkannya. Matanya memerah dan berkaca-kaca. Dadanya jadi sesak.Kamu hancurkan harapan dan hidup saya, Roni! Retno menangis. Ia kesal dengan Roni.Di sekolah tadi, waktu Retno ingin ke kantin, ia melihat Roni sedang bersama Elisa, bidadari kelas dua, adik kelasnya. Roni terlihat begitu akrab dan mesra dengan Elisa. Retno dibakar cemburu melihat itu semua. Tapi Roni tampaknya malah sengaja. Dia mencubit manja dan tertawa bersama Elisa sambil bercanda. Pulang sekolah, Retno mempertanyakan tentang itu semua."Saya nggak menyukai kamu, No. Kamu membohongi saya. Waktu kamu saya dekati, katanya kamu mengaku belum punya pacar. Seminggu yang lalu, waktu kita ke toko buku, kita bertemu dengan seseorang yang tampaknya begitu akrab dengan kamu. Saya tahu, itu pacar kamu. Teganya kamu mendustai dia. Saya berpikir, bahwa kamu nggak pantas jadi pacar saya, karena kamu amat pandai berdusta tentang cinta. Asal kamu tahu saja, No. Saya tak mau mengobral cinta saya. Saya merasa bersalah sekali dengan pacar kamu yang bertemu di toko buku itu, karena seakan merebut kamu dari sisinya. Sekarang, lupakanlah tentang kita," kata-kata Roni yang panjang itu amat menyayat di hati Retno. Sampai sekarang pun masih tersisa.Retno bangkit dari tidurnya. Memandang sebingkai foto yang ada di atas meja belajarnya. Foto berukuran kartu pos itu adalah foto Ale sewaktu di Rinjani. Retno mengusap permukaan foto itu. Maafkan saya, Le. Saya baru tahu, bahwa kamu begitu berarti dalam hidup saya. Saya ngaku salah. Sekarang, saya amat merindukan kamu. Maafkan saya, Le. Retno mengusap butiran bening di wajahnya."Retno...! No! Ada Ale," panggilan Mama mengagetkan Retno.Ale? Dada Retno berdegup kencang. Oh, kamu selalu datang saat saya rindu dan membutuhkan kamu, Le. Retno cepat-cepat membersihkan airmatanya. Ia keluar.Di ruang tamu, Retno mendapati Ale tersenyum ke arahnya."Apa kabar, No?" sapa Ale.Retno tersipu. Lalu memandang Ale dengan kerut di dahi. Pakaian yang Ale kenakan tidak seperti biasanya. "Mau ke mana kamu, Le?" tanyanya dengan gelora di dada.Ale kembali tersenyum. "Bukankah kamu pernah bilang, kalau saya naik gunung lagi, kamu akan ikut? Tadi pagi anak-anak pencinta alam di kampus saya ngajakin naik Gunung Salak di Bogor. Kamu mau ikut, No? Sekarang hari Sabtu. Naik Gunung Salak paling cuma satu hari. Hari Minggu sore kita sudah pulang. Tapi sebelumnya, kita ke perkampungan setempat dulu, karena anak-anak ada rencana bakti sosial di sana. Kalau kamu mau ikut, bawalah beberapa potong pakaian kamu yang agak lama, kemungkinan bisa dibagi-bagikan di sana. Pakaian kamu itu bisa berguna," jelas Ale.Retno tersenyum lebar. Kegembiraan di wajahnya tidak dapat ia sembunyikan. "Saya akan ikut, Le. Saya akan minta izin sama Mama. Mama pasti mengizinkan, karena ini juga masalah bakti sosial. Sebentar ya, Le. Saya salin dulu," kata Retno bersemangat.Ale memandang Retno yang masuk ke kamar dengan sejuta kebahagiaan, karena ia melihat Retno begitu ceria, tidak seperti sebulan yang lalu, yang kalau bertemu Ale tampaknya kikuk dan diam selalu. Apakah keceriaan kamu adalah kembalinya kamu untuk saya, No? Ale bertanya dalam hatinya.Beberapa saat kemudian, setelah Retno salin, mengepak ransel dan pamit kepada Mama, mereka pergi dengan motor trail Ale."Kita taruh motor dulu, No. Teman-teman menunggu di kampus." Ale melajukan sepeda motornya."Naik kereta, dong?" Retno mengencangkan pegangannya di perut Ale."He-eh." Ale mengangguk, lalu tersenyum.Motor terus melaju."Le, maafkan saya, ya? Saya telah....""Sudahlah," potong Ale. "Dengan maunya kamu ikut saya pun suatu bukti, bahwa kamu memang tetap milik saya. Setiap orang pasti pernah berbuat salah, No. Saya telah memaafkan kekhilafan kamu. Asal jangan berbuat salah kedua kalinya saja. Karena kamu pun tahu, saya amat mencintai kamu," kata Ale.Retno menggigit bibirnya. Ale begitu bijaksana, pikirnya. Ia amat menyesal, kenapa sempat membagi cintanya kepada cowok lain. Apa yang kurang pada Ale? Mandiri, berprestasi, sederhana, dan... ah, semua yang ada pada diri Ale adalah tipe cowok yang Retno suka, meskipun Ale tidak begitu tampan. Toh ketampanan belum tentu menjanjikan kebahagiaan. Sebab yang Retno tahu lewat baca, kebahagiaan itu ada karena diciptakan. Dan Retno ingin menciptakan segala kebahagiaannya bersama Ale.Mulai sekarang. ©
Langganan:
Postingan (Atom)

